Misteri Mata Air Bertuah di Candi Sumberawan, Konon Bisa Sembuhkan Segala Penyakit : e-Kompas.ID Travel - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Misteri Mata Air Bertuah di Candi Sumberawan, Konon Bisa Sembuhkan Segala Penyakit : e-Kompas.ID Travel


Mata Air Sumberawan di Malang, Jawa Timur  (Foto: Avirista Midaada/MPI

Mata Air Sumberawan di Malang, Jawa Timur (Foto: Avirista Midaada/MPI

CANDI Sumberawan, di lereng Gunung Arjuno sisi Kabupaten Malang, Jawa Timur mempunyai mata air abadi. Mata air ini konon tidak pernah kering kendati musim kemarau panjang, selain juga diyakini mempunyai khasiat. 

Di sini ada dua sumber mata air, yang dinamakan Sumber Kahuripan dan Sumber Kamulyan. Sumber Kahuripan berada di sisi timur Candi Sumberawan, sedangkan Sumber Kamulyan berada di sisi barat candi.

Keduanya kerap dijadikan masyarakat dan pengunjung candi untuk mandi atau sekedar membasuh muknanya. Pengunjung memiliki keyakinan bahwa dua mata air ini bukan sumber sembarangan yang dianugerahkan Tuhan Pencipta Alam.

Lokasinya yang tak jauh dari area candi membuat dua sumber mata air ini kerap dikunjungi wisatawan. Tak cuma dimanfaatkan wisatawan, ternyata sumber mata air di sini juga dikelola hingga dimanfaatkan oleh warga di beberapa kecamatan di Kabupaten Malang.

Mata AIr Sumberawan

(Foto: Avirista Midaada/MPI)

Juru pelihara Candi Sumberawan, Dika Maulana mengungkapkan, mata air ini memang dahulu ada ketimbang Candi Sumberawan. Mata air ini konon dijadikan pembersihan manusia sebelum kegiatan keagamaan di Gunung Arjuno, yang merupakan gunung suci di Pulau Jawa.

“Sebelum bangunan candi ini ada memang sumber air, udah ada terlebih dahulu. Itu di zaman dahulu memang digunakan masa kerajaan untuk kegiatan keagamaan,” kata Dika Maulana, ditemui, Minggu, 9 Juni 2024.

Menurutnya, Candi Sumberawan ini baru ada di zaman Prabu Hayam Wuruk pada Kerajaan Majapahit. Saat itu Hayam Wuruk memang mulai intens membangun candi untuk peribadatan. Namun candi itu sempat tak terawat hingga akhirnya baru ditemukan kembali pada tahun 1937, dan direkonstruksi ulang.

“Kalau candinya iya ahun 1937, namun keberadaan sumber mata air dari dulu sudah di tempatnya enggak pernah berubah,” terangnya.

 



Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2022 e-Kompas.ID