INDUSTRY.co.id – Jakarta – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menanggapi rencana impor satu juta ton beras yang akan dilakukan dalam waktu dekat oleh Kementerian Perdagangan.
Menurut SYL, gabah petani harus terlebih dahulu diserap secara maksimal sebelum dilakukannya impor beras.
Hal itu disampaikan Syahrul saat memberikan kuliah umum di Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, beberapa hari lalu
“Yang aku minta serap dulu gabah kita,” katanya di hadapan ratusan mahasiswa yang mengikuti kuliah umum tersebut.
Ia pun menyebut, jika hasil gabah petani baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, maka secara logika impor tidak perlu melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik.
“Kalau jumlahnya bagus, kualitasnya bagus ya logikanya tidak boleh impor,” sebutnya lagi.
Diketahui Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi berencana untuk mengimpor 1 juta beras. Alasannya, impor ini bukan karena pasokan beras yang kurang. Akan tetapi menjadi mekanisme pemerintah untuk menjaga cadangan beras yang dimiliki Bulog.
Pasalnya, Bulog diharuskan memiliki cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 1 juta ton hingga 1,5 juta ton.
Berdasarkan perhitungan Kementerian perdagangan, stok akhir yang akan dimiliki Bulog masih kurang dari 1 juta ton beras. Pasalnya, dari stok beras yang tersedia di gudang Bulog saat ini sekitar 800 ribu ton, 300 ribu ton di antaranya merupakan sisa impor 2018.
Sementara itu, di sisi lain, Bulog memiliki tugas operasi pasar sekitar 80 ribu ton per bulan atau setara dengan 1 juta ton per tahun.
“Bulog hari ini bisa cadangan berasnya di bawah 500 ribu. Itu yang saya takutkan. Karena dengan 500 ribu itu, pemerintah bisa dipojokkan pedagang dan spekulan,” tegasnya.
Lutfi pun menjamin tak akan ada impor di tengah panen raya asalkan hasil produksi petani dapat diserap dengan optimal oleh Bulog.
“Tidak ada beras impor ketika panen raya. Ini semua tidak ada impor beras setelah panen raya. Jadi, saya ingin menenangkan semua,” pungkasnya.
Baca Berita Selengkapnya;
https://www.industry.co.id/read/8264…ontok-gontokan
You must be logged in to post a comment Login