Menilik Teknologi STO Pengelolaan Aset Digital untuk Transaksi Aman dan Transparan : e-Kompas.ID techno - e-Kompas.ID
Connect with us

Iptek

Menilik Teknologi STO Pengelolaan Aset Digital untuk Transaksi Aman dan Transparan : e-Kompas.ID techno

JAKARTA – Melalui teknologi STO (Security Token Offering) menjadi babak baru perkembangan teknologi yang memungkinkan masyarakat dari kalangan atas hingga kalangan bawah bisa memiliki aset apapun, di manapun dan berapapun nilai asetnya.

Inilah yang melatarbelakangi managemen Perusahaan Diva Agra Selaras (PT DAS) dengan mengundang masyarakat dari berbagai latar belakang untuk “melek digital dan sadar aset” yakni dengan memberikan edukasi dan pelatihan secara gratis, di kantor PT. Diva Agra Selaras, di Gedung Vinoti Living, Cipinang, Jakarta Timur.

Acara tersebut menghadirkan Master Yudi, pakar Block Chain dan Crypto Asset dari Solodan dihadiri oleh beberapa wartawan senior yang juga merupakan pengurus dan anggota dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), perwakilan dari Majalah Asrinesia, pemilik Vinoti Living dan para pengusaha serta undangan lainnya DAS merupakan Lead Agent untuk pemasaran kawasan wisata Pulau Katang Lingga yang memiliki luas 73 hektar di Kepulauan Riau (Kepri). Pembanguan fase pertama di Pulau Katang Lingga telah dimulai.

Di fase ini ditargetkan akan terbangun sebanyak 105 Vila di atas lahan seluas 10 hektar yang kepemilikannya dilakukan dengan pola gotong-royong berbasis digital yaitu menggunakan Security Token Offering (STO).

Dengan konsep STO ini, siapapun dan apapun profesi serta latar belakang sosialnya bisa memiliki vila di Katang Lingga dengan mudah dan cepat. Harga vila Katang Lingga yang berkisar antara Rp 5,6 Milyar hingga Rp 15 Milyar per unitnya kini bisa dimiliki siapapun dari mulai ibu rumah tangga, tukang becak, pegawai, pengusaha maupun lainnya.

Setelah terjadi kesadaran para alumni peserta pelatihan diajak untuk “take action” dan langsung mempraktikkan ilmunya yakni mengakusisi (memiliki secara bersama-sama) aset vila dan resort di Pulau Katang Lingga yang bernilai milyaran. Dengan konsep STO Anda tidak perlu memiliki uang milyaran untuk memiliki vila di Katang Lingga, bahkan dengan Rp 1 juta atau kurang siapapun bisa menjadi pemilik yang syah atas vila Katang Lingga.

Kabar bagusnya lagi, dengan teknologi blockchain dan STO ini menjamin semua transaksi yang dilakukan akan tranparansi, immutable (tidak bisa diganti-ganti/dimanipulasi/diintervensi) dan secure (aman). Tiga hal di atas adalah ciri khas yang melekat pada block chain dan teknologi STO Pulau Katang merupakan salah satu pulau yang terletak di Kabupaten Lingga yang kini tengah berbenah untuk bisa menjadi salah satu destinasi favorit dan wisata berkelas di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Jarak Pulau Katang Lingga dari dermaga Barelang Ujung hanya sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kapal dan waktu setengah jam itu tidak akan terasa membosankan karena adanya suguhan keindahan pulau-pulau di sekitaran Pulau Katang Lingga. Katang Lingga secara geografis sangat dekat dengan Kota Batam, yang notabanenya menjadi pintu masuk wisman terbesar di Kepri, terutama dari Malaysia dan Singapura.

Dengan jarak tempuh hanya sekitar 1 sampai 2 jam melalui transportasi laut, maka Singapura dan Malaysia menjadi target market Pulau Katang Lingga. Hal itu yang medorong PT Angkasa Wijaya Group (AWG) berinvestasi ratusan milyar untuk memiliki dan membangun pulau yang terletak di pintu masuk Kabupaten Lingga, Kepri tersebut. Seperti kita pahami bahwa dunia pariwisata adalah sektor usaha yang paling parah terdampak oleh pandemik covid19, namun PT AWG justru mengambil keputusan memulai pembangunan kawasan pariwisata Katang Lingga.

karena meyakini bahwa di setiap musibah atau masalah pastilah Tuhan menitipkan pesan, hikmah sekaligus peluang. Hal itu diungkapkan Direktur PT Angkasa Wijaya Group, Wagianto Angkasa Wijaya saat menerima kunjungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beserta jajaran Dinas Pariwisata Kabupaten Lingga belum lama ini.

Semangat beliau di tengah covid19 ternyata bukan saja mampu mendatangkan jajaran Dinas Pariwisata Lingga maupun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, bahkan staf khusus Presiden Jokowi, Bapak Jendral (Purn) Moeldoko tercatat sudah 2 kali berkunjung ke Pulau Katang Lingga selama wabah covid19.

“Saat pertama kali mendarat di sini, kami takjub luar biasa. Ikan berenang bisa dilihat secara kasat mata, dan kami jatuh cinta dengan pulau ini. Selain itu, pulau ini dekat dengan Pulau Benan yang menjadi ibukota Kabupaten Lingga yang punya sejarah besar Kerajaan Kepri di masa lampau. Oleh sebab itu, desain bangunan resor akan kita bangun akan mengadopsi tema klasik yang bersinggungan dengan ciri khas budaya Melayu Kepri, seperti tanjak (topi melayu) dan gonggong (makanan laut) agar lebih ikonik dan unik, sehingga lebih menarik minat para wisatawan asing,” (Wagianto Angkasa Wijaya, Direktur PT AWG).

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lingga, Raja Fakhrurrazi menganalogikan Pulau Katang sama halnya dengan Batam yang mulai dibangun pada tahun 1980-an dan kawasan wisata Lagoi di Bintan yang mula dibangun pada 1990-an.

“Dulunya juga kosong, sama seperti Pulau Katang hari ini, tetapi lihat sekarang Batam dan Lagoi, sama-sama sudah berkembang. Hal itu yang membuat kami optimistis Pulau Katang di masa depan bakal menjadi gerbang wisata di Lingga, bahkan akan lebih hebat dari Lagoi,” lanjutnya.

“Kabupaten Lingga pun mempunyai Gunung Daek, 13 sumber mata air terjun, bahkan Lingga menjadi poros ekonomi Kepri, karena untuk wilayah Batam, Bintan, Batam, dan Tanjungpinang sudah tidak ada air. Di sini kita ada istana peninggalan masa kerajaan Riau-Lingga, hingga air terjun yang tidak dimiliki daerah lain. Itu yang bisa dijual dalam mempromosikan Pulau Katang ini,” tandasnya.

Vinsensius Jemadu selaku Direktur Pemasaran Pariwisata Regional 1 (Nusantara, ASEAN, Australia dan Oceania) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lingga, Raja Fakhrurrazi menyatakan dukungannya terhadap rencana pengembangan Pulau Katang Lingga menjadi destinasi wisata kelas atas bagi wisatawan domestik maupun manca negara.

“Hadirnya Pulau Katang Lingga, saya harap bisa membawa kembali kejayaan Lingga, seperti pada zaman kerajaan Lingga dahulu. Terlebih potensi pariwisata di Katang Lingga sangat baik, ada wisata air, alam, bawah laut, budaya dan sejarah. Potensi wisata sejarah kawasan Lingga inilah yang akan mampu menarik wisatawan dari Brunei, Singapura, Malaysia bahkan Filipina,” (Raja Fakhrurrazi).

Sarno Wibowo yang biasa disapa Kapten Sar, Komisaris PT DAS meyakini bahwa konsep ekonomi kerakyatan dan gotong royong berbasis teknologi block chain dan STO adalah jawaban dari keresahan masyarakat dan bangsa Indonesia selama ini di mana aset-aset strategis dan menguntungkan hanya bisa dimiliki segelintir orang dan kelompok.

Bangsa Indonesia sebagai pemilik sah atas negeri ini justru hanya menjadi penonton di negeri sendiri. PT Angkasa Wijaya Group melalui kepanjangan tangannya yakni PT Diva Agra Selaras berkomitmen memberi solusi agar aset-aset strategis dan menguntungkan seperti kawasan wisata Katang Lingga Kepri bisa tetap dimiliki Putra Bangsa sendiri melalui konsep ekonomi gotong royong berbasis teknologi STO. Sudah waktunya Indonesia berdaulat secara ekonomi, dan sudah waktunya Anda semua menjadi “the economic heros” atau pejuang dan pahlawan ekonomi bangsa!.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *