Fenomena Pawang Hujan MotoGP Mandalika, Kearifan Lokal yang Bisa Dikenalkan ke Dunia : e-Kompas.ID Nasional - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Fenomena Pawang Hujan MotoGP Mandalika, Kearifan Lokal yang Bisa Dikenalkan ke Dunia : e-Kompas.ID Nasional

[ad_1]

JAKARTA – Aksi Rara Isti Wulandari pawang hujan MotoGP Mandalika menarik perhatian masyarakat. Rara bahkan diizinkan melakukan ritual di tengah-tengah sirkuit Mandalika, Lombok di hadapan penonton saat hujan lebat disertai petir melanda.

Banyak yang memuji aksinya. Namun, ada pula yang menghujatnya karena aksinya dianggap memalukan. Menanggapi hal tersebut, Ketua IKAL (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII, Hardiyanto Kenneth menganggap pawang hujan sebagai kearifan lokal dan tidak perlu diperdebatkan publik.

“Adanya aksi pawang hujan itu, membuat Mandalika dan Lombok yang memiliki destinasi wisata alam dan tradisi nyongkolan, semakin terkenal dan menjadi perbincangan dunia,” kata Hardiyanto Kenneth melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (23/3/2022).

Menurut Kenneth, pawang hujan di Mandalika merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang bisa dikenalkan kepada dunia, bahwa ini adalah bagian dari budaya Indonesia. 

“Pawang hujan ini jika dikaitkan dengan agama ya tidak sepadan. Kalau bicara soal sosial budaya, ya inilah Indonesia dengan beragam budaya kearifan lokalnya,” kata Kenneth.

 Baca juga: Pawang Hujan Beraksi saat MotoGP Mandalika, BMKG Bilang Begini

Anggota DPRD DKI Jakarta itu menyebutkan, masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kebudayaannya. 

“Apalagi Indonesia sejak zaman dahulu memiliki budaya sendiri dengan kearifan lokalnya yang dimiliki hampir semua masyarakat dari berbagai suku di daerah masing-masing,” katanya.

Hardiyanto Kenneth. (Foto: Antara)

Menurut dia, semua daerah mempunyai kebudayaan tersendiri dan punya tujuan serta makna yang berbeda-beda antara satu dengan kearifan lokal lainnya.

“Indonesia itu unik dan menarik karena kaya akan adat istiadat dan budaya. Hal inilah yang tidak bisa kita temukan di negara lain,” tutur Kent

Kenneth mencontohkan, budaya cingcowong di Jawa Barat di mana upacara tersebut bertujuan untuk meminta hujan, dan sudah dilakukan terus-menerus  secara turun-temurun oleh masyarakat Luragung. 

“Bahkan, budaya cingcowong juga menunjukkan bagaimana suatu permintaan ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.


Apapun bentuk kearifan lokalnya, kata dia, hal itu ditunjukkan bagaimana suatu permintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Di Bali ada kearifan lokal nerang hujan, di Banten ada debus, lalu di NTB ada bau nyale. Hal-hal seperti ini seharusnya kita pahami dan bisa bertoleransi satu sama lainnya, karena kearifan lokal sudah ada sejak zaman nenek moyang kita,” ujar dia.

Kent meminta, aksi pawang hujan di Mandalika tersebut bisa diambil sisi positifnya, sebagai salah satu modal sosial budaya Indonesia untuk lebih mempromosikan negara ini ke dunia internasional.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID