Bagaimana Orang Bisa Tertipu Triliunan Dolar Hanya dari Pesan Spam dan Telepon Acak : e-Kompas.ID News - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Bagaimana Orang Bisa Tertipu Triliunan Dolar Hanya dari Pesan Spam dan Telepon Acak : e-Kompas.ID News

[ad_1]

JAKARTA – Kita pasti sering menerima pesan spam di kotak masuk email atau menerima panggilan terkomputerisasi dengan berbagai penawaran yang, entah menarik atau tidak, sering kita abaikan.

Namun, siapa sangka praktik semacam itu tetap sukses merugikan orang, usaha, dan lembaga pemerintah, hingga triliunan dolar Amerika Serikat setiap tahun. Banyak korban menanggung depresi dan dampak kesehatan buruk lainnya.

 BACA JUGA:Kuasa Hukum Mas Bechi Sesalkan Sidang Digelar Secara Online

Fenomena ini pun menarik perhatian pakar psikolog dan melakukan penelaahan lebih lanjut terkait hal ini. Kenapa orang-orang mudah tertipu di internet?

Sebagaimana dilansir dari BBC, beberapa temuan penelitian mirip dengan hasil penelitian lain, meski sejumlah kajian itu menggugat asumsi dasar soal tindak pidana penipuan.

 BACA JUGA:Suami Zaskia Gotik Juga Disebut Hamili Penari asal Jogja Bernama Inez Gonzalez

Pada periode sebelum booming internet, penipuan dilakukan sejumlah kecil pelaku lokal dengan metode tatap muka, barangkali di seminar investasi yang menjanjikan peluang meraih bangunan real estate palsu.

Kala itu penipuan dilakukan melalui cara lawas. Namun kini semakin banyak yang dikoordinasikan tim lintas negara, termasuk beberapa kelompok di Jamaika, Kosta Rika, Kanada, dan Nigeria.

Beberapa tahun belakangan, penipuan berkembang menjadi tindak kriminal global, seiring ongkos teknologi yang makin murah, namun secara simultan memberi kemudahan untuk menggaet jutaan konsumen dalam waktu singkat.

Di sisi lain, semakin sulit menangkap dan menindak para pelaku kriminal ini. Misalnya, telepon terkomputerisasi muncul di gawai anda seolah-olah dari daerah anda, padahal berasal dari India.

 BACA JUGA:Harga Pupuk Mahal, Petani Indonesia Menjerit

Alasan orang tertipu

Bertujuan mengkaji seberapa mudah konsumen terpengaruh tipuan massal, saya dan rekan penulis saya mengulas 25 penawaran yang menipu publik. Untuk kesamaan tema, kami mencarinya dari kantor pengawas pos Los Angeles.

Sejumlah tipuan itu menyertakan beberapa merek yang familiar di telinga masyarakat, seperti Marriott atau Costco, untuk meningkatkan kredibilitas dan ‘otoritas’ mereka.


Para penipu itu kerap menggunakan teknik persuasi seperti berpura-pura menjadi bisnis yang sah dan menampilkan kode area tertentu sebagai kesan tak asing.

Mereka juga menggunakan klaim tenggat waktu tertentu untuk mendorong niat konsumen. Sejumlah tipuan melalui surat yang kami ulas terlihat warna-warni, memuat foto uang atau hadiah serta pemenang terdahulu.

Surat tipuan lainnya tampak profesional dan menyertakan teks yang terlihat seolah legal, sekaligus memunculkan kesan yang tak menyalahi hukum.

 BACA JUGA:5 Alasan Timnas Basket Indonesia Bakal Kalahkan China di Playoff FIBA Asia Cup 2022, Nomor 1 Faktor Penting

Kami kemudian membuat prototipe surat tipuan yang menginformasikan konsumen bahwa mereka telah terpilih menjadi pemenang serta memberikan nomor aktivasi yang harus dikontak untuk mengklaim hadiah.

Kami membuat empat versi tipuan, yang kami kirim secara acak, baik untuk mengesankan keseriusan (“Kami mendapatkan nama anda dari Target”) atau mendesak konsumen (“Harus ditindaklajuti sebelum tanggal 30 Juni”).

Tujuannya, memastikan faktor pendorong yang memotivasi konsumen untuk segera memberi respons.

Kajian itu didesain untuk memeragakan skenario sesungguhnya, meski partisipan tahu mereka adalah bagian dari percobaan, dan menguji faktor yang diduga meningkatkan resiko, seperti kenyamanan hitung-hitungan dan angka, kesendirian, dan pendapatan rendah.

Pada percobaan pertama, kami meminta 221 peserta menunjukkan keinginan mereka menghubungi nomor aktivasi yang tertera di surat.

 BACA JUGA:Sinergi Kemenag x LPDP, Siapkan 2 Ribu Beasiswa untuk Guru Madrasah, Pesantren dan PAI

Mereka lalu diminta menaksir keuntungan dan resiko merespon surat itu dalam skala angka 10 dan mengisi jajak pendapat untuk mengenal tingkat numerik, interaksi sosial, demografi, dan keadaan finansial.

Kami menemukan bahwa, 48% peserta bersedia menghubungi nomor dalam surat, seperti apapun surat yang mereka terima. Konsumen yang menunjukkan kesediaan merespon tipuan itu cenderung muda dan lebih rendah secara pendidikan.

Partisipan seperti ini juga cenderung tak menganggap menghubungi kontak itu berbahaya dan menilai keuntungan yang akan mereka dapatkan besar.

Dalam penelitian kedua yang melibatkan 291 orang, kami menggunakan surat yang sama dengan percobaan pertama, namun menambahkan ongkos aktivasi nomor kepada ke setengah surat itu.

Artinya, sebagian peserta diberitahu, untuk mengambil hadiah, mereka harus membayar biaya sebesar US$5 atau sekitar Rp72 ribu, sementara peserta yang lain diminta ongkos sebesar US$100 atau Rp150 ribu.

Sejumlah partisipan tak melihat perbedaan dengan eksperimen sebelumnya: Seluruh desain dibuat indentik, kecuali beberapa pertanyaan survei tambahan yang berkaitan dengan situasi finansial peserta.

Kami berhipotesa, mereka yang bersedia menghubungi dan membayar US$100 sangat rentan menjadi korban penipuan.

Bahkan dengan biaya aktiviasi hadiah, 25% peserta menunjukkan keinginan menghubungi nomor yang tersedia, termasuk lebih dari satu perlima peserta padahal tahu kontak itu harus ditebus senilai US$100.

Serupa dengan percobaan pertama, partisipan yang menganggap surat hasutan itu memuat keuntungan menunjukkan intensi untuk menghubungi nomor aktivasi. Kami menilai eksperimen seperti ini akan membantu kami mengidentifikasi korban dengan kerentanan tertentu, seperti manula.

Namun sebaliknya, konsumen yang tertarik dengan hasutan pesan itu menunjukkan kecenderungan yang sama: mereka melihat indikasi keuntungan lebih besar daripada resiko.

Tidak ada perbedaan signifikan tentang respon terhadap surat hasutan, baik dari segi usia, jenis kelamin, maupun data demografi lain.

Meskipun sekitar 60% partisipan menanggap surat hasutan itu sebagai tipuan, mereka tetap masih melihat peluang keuntungan. Dalam kondisi tertentu, biaya tambahan dalam surat itu barangkali mirip lotre tak resmi—murah tapi punya peluang gagal yang besar.

Meski konsumen waspada, mereka tidak benar-benar mencoret peluang meraih keuntungan besar dan secara terang-terangan bersedia menangung resiko. Sayangnya, konsumen sering menganggap mampu menanggung kerugian jika mereka benar-benar ditipu.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID