SEBAGIAN besar orang mungkin masih beranggapan, kalau lari merupakan olahraga yang paling mudah, murah, dan fleksibel.
Eits! Jangan salah, karena pada kenyataannya, olahraga lagi tak sesimpel itu loh! Pasalnya, olahraga lari, apalagi yang tipe lari jarak jauh seperti marathon memiliki resiko cedera yang tinggi, jika dilakukan dengan teknik yang salah dan persiapan yang kurang dan tak tepat.
Lantas, apa saja kesalahan yang sering dilakukan saat olahraga lari sehingga memicu resiko cedera? Berikut ulasannya, seperti dijelaskan dokter spesialis kedokteran olahraga Sport Medicine, Injury & Recovery Centre RS Pondok Indah Bintaro Jaya, Dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp. KO, Kamis (8/9/2022).
1.Tidak kenal kondisi tubuh sendiri: Banyak orang yang melakukan olahraga lari tanpa mengetahui atau mengenali kondisi tubuh sendiri. Padahal, kondisi tubuh yang fit atau prima sangat dibutuhkan untuk melakukan olahraga lari. Namun, karena ego yang tinggi, hal ini justru banyak disepelekan. Dokter Antonius, mengatakan, berdasarkan data, perubahan tren olahraga lari di kalangan masyarakat pada tahun 1970 hingga 2019 sangat memiliki perubahan signifikan. “Jadi trennya berubah. Sekarang ini lari yang penting bisa sampai garis finish, nggak mesti wining. Dan mirisnya, banyak yang nggak tau kondisi mereka sendiri, fit atau tidak untuk ikut event lari,” ujar Dr. Andi, saat melakukan media discussion di kawasan Jakarta Selatan baru-baru ini. Terlebih, lanjut Dr.Andi, banyak orang dengan mobilitas tinggi yang terlalu memaksakan diri untuk olahraga lari. Padahal, olahraga lari membutuhkan waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan kembali stamina mereka.
2. Teknik lari yang salah: Sayangnya, masih banyak orang yang berlari dengan teknik yang salah. Salah satunya adalah menjejak tanah dengan tumit. Padahal, cara ini justru akan memberikan terlalu banyak tekanan pada tulang metatarsal dan berakibat pada fraktur tulang. “Mendarat dengan tumit juga akan sangat merusak tulang rawan di lutut. Yang benar itu sebenarnya landing di midfoot strike,” ungkapnya. Pelari yang menggunakan pendaratan tumit selama lari jarak jauh bisa berisiko merusak tulang paha mereka.
Postur ini meningkatkan tekanan pada kaki bagian bawah dan pergelangan kaki sehingga menyebabkan nyeri di area ini, lalu rasa sakit menjalar ke punggung karena dampaknya bisa menjalar melalui pinggang. Terlebih lagi, karena tumit tidak dirancang untuk menahan seluruh berat tubuh, mendarat pakai tumit ketika berlari lama kelamaan akan mengikis urat tumit kaki sehingga menyebabkan rasa sakit kronis dan kerusakan jaringan. Mendarat dengan bagian depan kaki selama berlari tampak jauh lebih baik. Condong ke depan akan menempatkan pusat gravitasi tubuh di bagian depan kaki, sehingga lebih memudahkan mekanisme pegas kaki.
3. Melewatkan pemanasan: Jika melewatkan tahapan penting ini justru bisa memicu cedera dalam jangka panjang. Berlari tanpa pemanasan bisa menyebabkan nyeri lambung atau ketegangan otot dalam beberapa waktu awal sejak mulai lari.
4.Menyepelekan rasa sakit: Tidak sedikit yang beranggapan, rasa sakit atau nyeri yang timbul saat berlari, adalah hal wajar dan biasa terjadi. Apalagi, jika baru pertama kali melakukannya. Padahal, rasa sakit yang berlangsung selama lebih dari tiga hari merupakan gejala cedera yang patut diwaspadai loh!
Terlebih, memaksakan aktivitas dan mengabaikan rasa sakit setelah berlari ini akan membuat kondisi tubuh jadi semakin parah. Rasa sakit adalah peringatan bahwa ada yang salah dengan tubuh atau pola latihan. Tidak ada salahnya untuk beristirahat sejenak dan periksakan diri ke dokter
You must be logged in to post a comment Login