Atasi Bencana Kekeringan, DPR: Tingkatkan Infrastruktur seperti Bendungan dan Reservoir Air : e-Kompas.ID Nasional - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Atasi Bencana Kekeringan, DPR: Tingkatkan Infrastruktur seperti Bendungan dan Reservoir Air : e-Kompas.ID Nasional

[ad_1]

JAKARTA – Fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang. Hal ini berdampak pada masalah kekeringan di berbagai daerah.

Pemerintah perlu melakukan tindakan pencegahan, yakni dengan meningkatkan infrastruktur di segala sektor. Tindakan ini sebagai bentuk preventif sekaligus kuratif atas bencana.

“Pembangunan infrastruktur memiliki peran penting dalam mencegah dampak kekeringan. Infrastruktur seperti bendungan, saluran irigasi, dan reservoir air membantu menyimpan dan mengalirkan air untuk irigasi pertanian dan kebutuhan air domestik, yang dapat mengurangi risiko kekeringan,” kata Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Andi Iwan Darmawan Aras dalam keterangannya, Jumat (11/8/2023).

“Jadi jangan melakukan tindakan penanggulangan bencana saja, tapi tindakan pencegahannya juga harus diperhatikan,” imbuhnya.

Selain itu, masyarakat terdampak harus mendapatkan bantuan karena sudah menjadi kewajiban pemerintah. “Karena kita lihat bersama, banyak masyarakat menderita akibat bencana kekeringan yang mungkin untuk masyarakat kota biasa saja. Tapi di desa-desa dan pedalaman dampaknya lebih parah karena kekurangan infrastruktur,” katanya.

El Nino merupakan fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan mengurangi curah hujan di wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil monitor BMKG, 63% dari zona musim telah memasuki musim kemarau hingga pertengahan 2023. Bahkan, kemarau tahun ini diprediksi BMKG akan lebih kering dari tiga tahun sebelumnya.

Sejumlah wilayah di Indonesia mulai terdampak kekeringan, di antaranya Provinsi Papua Tengah di mana bencana kekeringan melanda Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi, Kabupaten Puncak. Sekitar 8.000 warga Kabupaten Puncak mengalami bencana kelaparan.

Kekeringan juga melanda Bogor, Jawa Barat dan ada ribuan warga terdampak. Kemudian, Bondowoso, Jombang, dan Bojonegoro Jawa Timur, lalu Temanggung Jawa Tengah, serta Serang Banten. Kejadian ini menimbulkan masalah bagi warga, karena mereka menjadi kesulitan air bersih.

Sementara menurut BMKG daerah yang akan terdampak cukup parah akibat El Nino yaitu Sumatera bagian tengah hingga selatan, Riau bagian selatan, Jambi, Lampung, Banten, hingga Jawa barat. Untuk itu, persoalan ini harus diatasi dengan cepat karena bencana ini juga mengancam sektor pertanian nasional.

Baca Juga: Balkon Fest Gelaran Pesta Rakyat untuk Warga Wringinputih


Follow Berita e-Kompas.ID di Google News

Dampak yang ditimbulkan dari bencana kekeringan ini, kata Iwan, sangat serius. Ia mencontohkan, jika terjadi kekurangan air dapat menyebabkan penurunan produksi pertanian, kerugian ekonomi, dan krisis pangan.

“Agar kekeringan tidak memukul sektor pertanian lebih parah lagi, harus ada teknologi tani yang memungkinkan tanamannya tetap hidup sekalipun terdampak kemarau panjang,” katanya.

“Upaya modifikasi cuaca yang dilakukan Pemerintah juga harus merata ke seluruh daerah yang membutuhkan. Harapannya saat hujan turun, masalah kekeringan sedikit demi sedikit dapat diatasi,” imbuhnya.

Belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari seperti air minum, sanitasi, dan kebersihan hingga masalah kesehatan. “Belum lagi dampak psikologis karena stres akibat ketidakpastian pasokan air, maupun kurangnya bahan pangan seperti yang terjadi di Papua Tengah. Karena mereka mengandalkan dari hasil tanam untuk konsumsi makanan sehari-harinya,” ujarnya.

Kendati pihaknya mengapresiasi keseriusan Pemerintah akan program food estate di Bumi Cendrawasih yang mendorong masyarakat lokal untuk mulai dengan menanam padi, jagung, hingga sawit. Kemudian, pemerintah juga akan membangun gudang logistik untuk meng-cover tiga distrik di Papua Tengah yang kerap mengalami bencana kelaparan.

Iwan tetap mengingatkan agar memperhatikan fasilitas sarana dan prasarana penunjang lainnya. Sebab, kendala distribusi bantuan pangan untuk warga Papua Tengah karena masalah akses transportasi dan keamanan.

“Belum memadainya infrastruktur jalan di Papua, terutama di wilayah pegunungan, masih terus menjadi pekerjaan rumah. Akibatnya bantuan sulit disalurkan dan biaya distribusi sangat mahal,” pungkasnya.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis e-Kompas.ID.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID