BATIK memang menjadi item fashion favorit khas Indonesia yang sudah diakui oleh masyarakat dunia. Bahkan, batik pun pernah dipakai oleh presiden dari negara-negara lain.
Tidah heran, jika kemudian pemerintah mengeluarkan aturan khusus mewajibkan para ASN memakai batik atau pakaian daerah pada hari Jumat. Tujuannya agar gaung batik menggema hingga wastra nusantara itu akan terus lestari.
Batik memang telah menjalani perjalanan panjang dari masa lalu sampai pada akhirnya melebur dengan modernitas. Namun sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman kepada nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Bahkan, menurut Pengamat dan Penggiat Batik Tulis Pewarna Alami, Agnes Dwina Herdiasti, batik kini hanya menjadi sebuah alat untuk sekadar menggerakkan roda ekonomi. Esensi dari batik itu sendiri seolah hilang, menguap, dan tersamarkan oleh materi.
Ini bisa dilihat dari masifnya produksi batik printing dibandingkan batik tulis yang notabennya sangat menjunjung tinggi pakem-pakem batik klasik dari warisan leluhur. Alhasil, lebih banyak masyarakat mengenakan batik printing karena dari segi harga cenderung terjangkau.
“Jujur, setiap Hari Batik Nasional itu saya tidak pernah merayakan. Karena esensi Hari Batik bukan sekadar kita pakai batik di hari itu saja, tetapi bagaimana kita bisa mengapresiasi secara utuh dan menyeluruh. Buat apa kita merayakan sesuatu yang kita tidak paham arti di baliknya?,” ujar Agnes saat dihubungi MNC Portal.
Permasalahan ini, lanjut Agnes, tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Sebagai regulator, pemerintah tentu mengedepankan aspek ekonomi demi kesejahteraan masyakat. Apalagi bila sudah berkaitan dengan budaya, persoalannya akan menjadi sangat dilematis.
Maka dari itu, peran serta kesadaran masyarakat dalam menemukan kembali makna-makna yang tersimpan pada motif batik sangat diperlukan. Apalagi masih banyak sekali pesan-pesan dari leluhur yang dapat digali lebih dalam, seperti pesan tentang menjalani hidup harmoni antar sesama yang terdapat pada motif parang.
Belakangan motif parang kerap dikenakan sejumlah pejabat publik, tak terkecuali Bacapres Ganjar Pranowo. Secara rinci, motif parang menyimbolkan bahwa, setiap orang memiliki ketajaman rasa batin di atas rata-rata. Tutur katanya halus, memiliki kepekaan akan perasaan lawan bicaranya. Lebih banyak diam, tapi dalam diamnya orang merasakan getaran wibawanya.
Pengaruhnya besar, namun ia cenderung menyimpannya rapat-rapat, kecuali untuk kepentingan orang banyak. Kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi, memilih bertindak untuk mengatasi masalah secara nyata dibanding sekedar melempar gagasan tanpa mau bertanggung jawab. Itulah garis besar makna filosofis di balik motif parang.
“Intinya, kita semua harus kembali curious. Mungkin dengan momen Hari Batik ini, kita bisa mengingatkan kembali bahwa banyak sekali makna motif-motif batik yang belum terpecahkan. Di mana seluruhnya, dapat mengajarkan kita tentang nilai-nilai intelektual hingga spiritual,” terang Agnes.
Follow Berita e-Kompas.ID di Google News
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis e-Kompas.ID.com tidak terlibat dalam materi konten ini.


You must be logged in to post a comment Login