
Jujur saja saya merasa tak habis pikir, kok bisa-bisanya para agen asurasi menuntut kesejahteraan pada Jiwasraya yang perusahaan tersebut saat ini sedang menjadi zombi. Para agen nakal ini tidak membuka mata bahwa Jiwasraya sudah bangkrut.
Barangkali mereka sudah terlalu nyaman dengan era Hary Pras selama 10 tahun, sehingga susah move on. Bahkan mereka membanding-branding dengan kenikmatan yang didapat pada era Hary Pras, jadi tidak heran mereka menjadi loyalis Hary Pras, dan argumen yang disampaikan pun persi apa yang menjadi argumen Hary Pras, yakni diantaranya mempermasalahkan pengumuman gagal bayar, mempermasalahkan penghentian produk dan tidak jualan.
Bahkan tidak segan mereka menyamar sebagai nasabah buat memprovokasi para nasabah untuk menolak berbagai kebijakan dan tawaran solusi untuk menyelamatkan polis nasab Jiwasraya.
Dalam menghadapi agen nakal asuransi Jiwasraya ini, saya sepakat dengan Masyrakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) yang mendesak agar Kejaksaan Agung (Kejagun) mengusut korupsi Jiwasraya sampai pada agen asuransi nakal.
MAKI mengatakan kebangkrutan Jiwasraya tidak terlepas dari peranan agen nakal bersama direksi lama Jiwasraya yang mengatur besaran fee diluar kewajaran. Bahkan MAKI mendapat temuan kerugian negara pada Jiwasraya akibat agen nakal lebih dari Rp 50 miliar.

You must be logged in to post a comment Login