Menjaga Soko Guru Tetap Utuh: Merawat Joglo dan Rumah Jati Tua Yogyakarta dari Serangan Rayap - e-Kompas.ID
Connect with us

Press Release

Menjaga Soko Guru Tetap Utuh: Merawat Joglo dan Rumah Jati Tua Yogyakarta dari Serangan Rayap

Pembasmi Rayap

e-KOMPAS.ID – Nilai sebuah joglo tidak hanya terletak pada bentuknya. Ada tumpang sari yang disusun bertingkat, ukiran pada blandar, dan soko guru dari jati yang sudah berdiri lintas generasi.

Ketika kayu semacam itu diserang rayap, yang hilang bukan sekadar material, melainkan pengerjaan tangan yang sulit ditiru ulang.

Persoalannya, bangunan tradisional di Yogyakarta justru menghadapi dilema: metode pengendalian yang paling agresif sering kali sama merusaknya dengan hama yang hendak diberantas.

Dua Jenis Ancaman dengan Perilaku Berbeda

Kerusakan pada bangunan kayu tua di Yogyakarta umumnya berasal dari dua kelompok rayap yang cara kerjanya tidak sama.

Kelompok pertama adalah rayap tanah dari marga Coptotermes, yang bersarang di dalam tanah lalu naik melalui umpak, dinding, atau tiang yang bersentuhan dengan lantai. Jejaknya berupa terowongan lumpur tipis yang menempel pada permukaan batu maupun kayu.

Kelompok kedua adalah rayap kayu kering, Cryptotermes cynocephalus, yang seluruh siklus hidupnya berlangsung di dalam kayu tanpa perlu kontak dengan tanah.

Koloninya jauh lebih kecil, tetapi ia bisa bersarang di kusen lantai atas, daun pintu ukir, atau perabot antik yang tidak pernah menyentuh lantai dasar.

Membedakan keduanya menentukan seluruh strategi perawatan. Rayap kayu kering meninggalkan butiran kotoran halus menyerupai pasir atau merica di bawah lubang keluar berukuran sangat kecil.

Rayap tanah tidak meninggalkan butiran seperti itu, melainkan menutup jalurnya dengan lumpur. Salah baca gejala berarti salah pilih metode, dan pada bangunan bersejarah kesalahan itu berbiaya tinggi.

Mengapa Kayu Jati Tua Tetap Bisa Diserang

Anggapan bahwa jati kebal rayap perlu diluruskan. Ketahanan alami jati berasal dari zat ekstraktif pada bagian teras, bukan pada seluruh batang. Bagian gubal yang berwarna lebih terang jauh lebih rentan.

Selain itu, kandungan zat pelindung berkurang seiring waktu, terutama pada kayu yang berulang kali terkena kelembapan, terpapar rembesan atap, atau permukaannya sudah aus karena pengamplasan dan pelapisan ulang.

Banyak joglo dan limasan berdiri di halaman dengan pohon rindang dan tanah yang lembap sepanjang hari, kondisi yang mendukung koloni rayap tanah berkembang tepat di sekitar pondasi.

Perawatan yang Menghormati Keaslian Bangunan

Prinsip utama konservasi bangunan bersejarah adalah intervensi seminimal mungkin.

Mengganti balok berukir dengan kayu baru hanya karena sebagian permukaannya keropos merupakan pilihan terakhir, bukan langkah awal.

Beberapa pendekatan yang lazim dipakai antara lain injeksi bahan pengendali melalui lubang kecil di titik tidak terlihat, aplikasi bahan pengawet berbasis borat yang meresap ke serat kayu, pemasangan sistem umpan di tanah sekeliling bangunan, serta konsolidasi bagian kayu yang rapuh agar tidak perlu dibongkar. Pekerjaan semacam ini menuntut pemetaan kerusakan yang teliti terlebih dahulu, mulai dari pengetukan permukaan, pencatatan titik lubang keluar, sampai pemeriksaan sambungan yang tersembunyi.

Karena bangunan cagar budaya sering terikat aturan pelestarian, koordinasi dengan pihak berwenang dan pemilik menjadi bagian dari proses. Penyedia jasa anti rayap yogyakarta yang terbiasa menangani bangunan tua biasanya menyiapkan dokumentasi kondisi sebelum dan sesudah penanganan, sehingga setiap tindakan pada material asli dapat ditelusuri kembali di kemudian hari.

Pencegahan yang Dimulai dari Halaman

Sebagian besar serangan rayap tanah pada bangunan tradisional bermula dari kondisi di luar dinding. Tanah taman yang menempel langsung pada umpak, tumpukan sisa kayu di belakang pendapa, akar pohon mati yang dibiarkan membusuk, hingga saluran air yang tersumbat, semuanya menyediakan titik awal bagi koloni. Menjaga jarak antara material selulosa dan struktur bangunan, memperbaiki genteng bocor sebelum air merembes ke blandar, serta memastikan sirkulasi udara di bawah lantai kayu berjalan lancar akan menurunkan risiko secara nyata tanpa menyentuh material asli sama sekali.

Pemeriksaan Rutin dan Catatan yang Terjaga

Bangunan kayu berumur panjang sebaiknya diperiksa setidaknya setahun sekali, dengan perhatian khusus pada titik pertemuan kayu dan lantai, ujung balok yang tertanam di dinding, serta ruang gelap seperti loteng dan gudang. Mencatat setiap temuan beserta tanggalnya membantu melihat pola: apakah kerusakan meluas, berhenti, atau berpindah lokasi.

Merawat joglo pada dasarnya adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Kayu akan terus menua, iklim tetap lembap, dan koloni rayap di sekitarnya tidak hilang begitu saja. Yang bisa dikendalikan adalah kecepatan pemilik menyadari gejala dan ketelitian dalam memilih penanganan, agar bangunan itu tetap berdiri dengan bagian aslinya sebanyak mungkin.

Continue Reading
Advertisement

Copyright © 2025 e-Kompas.ID