3 Kisah Perjuangan Guru, Rela Bertaruh Nyawa demi Mengajar Muridnya : e-Kompas.ID Edukasi - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

3 Kisah Perjuangan Guru, Rela Bertaruh Nyawa demi Mengajar Muridnya : e-Kompas.ID Edukasi



KISAH perjuangan para guru untuk bisa mengajar di sekolah kerap ditemukan. Segala tantangan akan ditempuh pahlawan tanpa tanda jasa ini asalkan murid-muridnya bisa memperoleh pengajaran.

Berikut kisah perjuangan guru dalam mengajar, yang dilansir dari berbagai sumber:

1. Lewati Jembatan Gantung Demi Mengajar

Video guru yang melewati jembatan gantung kayu agar bisa mengajar, viral di media sosial pada Januari 2021. Lokasi itu diketahui berada di Tanggamus, Lampung. Mengutip iNews.id, video tersebut memperlihatkan 2 orang guru yang melintasi jembatan yang terbuat dari pohon kelapa dengan menuntun sepeda motornya.

Baca Juga: Sejarah Hari Guru, Berawal di Zaman Belanda dan Ditetapkan Presiden Soeharto

Di bawah jembatan itu, terlihat sungai yang berarus cukup deras. Kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung sejak tahun 1990. Tidak ada pembangunan jembatan maupun akses jalan di lokasi tersebut.

2. Menyeberangi Derasnya Arus Sungai

Derasnya arus Sungai Sampean Baru tak menyurutkan niat 3 orang guru wanita di sebuah desa terpencil di Wonosobo, Jawa Timur untuk mengajar. Ketiganya menyeberangi sungai menggunakan perahu tarik lantaran belum adanya jembatan penyeberangan yang tersedia di wilayah tersebut.

Salah satu dari 3 guru tersebut adalah Rina. Sejak 2019, wanita 32 tahun ini harus pergi mengajar dengan menyeberangi sungai tersebut. Bahkan, Rina dan 2 rekannya itu harus menyiapkan sendiri perahunya.

Baca Juga: Guru-Guru Bahasa Indonesia di Canberra Berkumpul, Mengaku Makin Semangat Pelajari Bahasa

Jika tidak ada perahu warga yang menarik perahunya, maka Rina dan teman-temannya harus menarik perahunya sendiri hingga tiba di seberang. Sebenarnya, ada jalan darat yang bisa ia tempuh. Akan tetapi, jarak tempuhnya sangat jauh, mencapai 7 kilometer, ditambah dengan kondisi jalan yang berbatu.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian lebih kepada guru yang mengabdi di desa-desa terpencil.

3. Satroni Murid saat Pandemi

Sejak pandemi Covid-19, pemerintah mengharuskan kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring dari rumah. Kebijakan ini tentunya tidak bisa diikuti oleh semua siswa dan siswi.

Sebab, mereka yang berada di daerah terpencil tidak memiliki akses internet untuk mengikuti pembelajaran daring. Hal itulah yang membuat 2 guru di Nangaroro, NTT memutuskan untuk mendatangi para muridnya, agar mereka tetap dapat belajar.

Maria Ernaliana dan Kristina Ani, bersama kepala sekolah dan rekan guru lainnya, mengatur jadwal bimbingan belajar kepada para muridnya. Kegiatan ini bukanlah hal yang mudah. Namun, para guru ini tetap teguh dan berusaha memberikan pengajaran terbaik bagi murid-muridnya. 

Hal serupa juga dilakukan oleh para guru di Ciamis, Jawa Barat. Mereka harus berjuang melewati perbukitan, saat hendak mengajar langsung muridnya di rumah selama pandemi. Yayah, Eem, Iis dan Etin harus melakukan hal itu karena tidak semua muridnya mempunyai gawai untuk belajar daring.

*Diolah dari berbagai sumber oleh Ajeng Wirachmi/Litbang MPI



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *