4 Fakta Erick Thohir soal Nasib Garuda, Utang Rp70 Triliun karena Kesalahan Bisnis : e-Kompas.ID Economy - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

4 Fakta Erick Thohir soal Nasib Garuda, Utang Rp70 Triliun karena Kesalahan Bisnis : e-Kompas.ID Economy



JAKARTA – Menteri BUMN Erick Thohir mengakui kesalahan bisnis PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menjadi pelajaran bagi seluruh perusahaan negara. Di mana saat ini, Garuda tengah menanggung beban kerja dan keuangan akibat tingginya utang.

Berikut fakta soal nasib Garuda Indonesia yang telah dirangkum e-Kompas.ID:

1. Kesalahan Bisnis

Emiten dengan kode GIAA itu mencatatkan utang hingga Rp70 triliun karena biaya sewa (leasing) pesawat yang di luar batas wajar.

Baca Juga: Utang Garuda Rp70 Triliun, Erick Thohir Akui Ada Kesalahan Bisnis

“Khusus Garuda ini memang kesalahan yang kita juga tidak bermaksud apa-apa, tapi memang kita ingin menjadi bagian yang harus kita belajar,” ujar Erick dalam sesi wawancara dengan IDX Channel, dikutip Kamis, (16/9/2021).

2. Lakukan Restruktrurisasi

Kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas pun memiliki sejumlah rencana besar untuk menyelamatkan bisnis Garuda Indonesia. Selain mendapat dukungan untuk merestrukturisasi utang emiten, perubahan model bisnis pun tengah digodok.

Perihal restrukturisasi, Garuda telah mendapatkan persetujuan untuk merestrukturisasi utang dalam jangka panjang. Saat ini, manajemen telah menandatangani perjanjian dengan sejumlah BUMN dengan rata-rata jangka waktunya tiga tahun.

Baca Juga: Utang Garuda Rp70 Triliun, Erick Thohir Akui Ada Kesalahan Bisnis

Perjanjian itu disepakati dengan PT Pertamina (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), dan Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI).

Ihwal perubahan model bisnis, kata Erick, Garuda akan difokuskan pada rute penerbangan domestik. Langkah ini diambil untuk memanfaatkan ceruk pasar domestik yang masih potensial.

3. Leasing Pesawat Garuda Capai 28%

Data penerbangan masih didominasi oleh penumpang domestik. Tercatat, 78 persen penumpang menggunakan pesawat untuk bepergian antar pulau dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1.400 triliun.

“Toh kalau kita lihat dari data sebelum Covid sendiri, 78% adalah turis lokal, sisanya turis asing. Dari 78% itu Rp1.400 triliun perputaran uangnya. Jadi memang nanti kita akan memfokuskan kepada penerbangan dalam negeri saja, ini untuk bisnis model perubahan,” katanya.

Meski bisnis maskapai penerbangan nasional itu masih bertahan di tengah krisis, namun perbaikan model bisnis penting dilakukan agar emiten pelat merah itu lebih efisien. Perbaikan tersebut dapat dilakukan usai emiten mengakhiri kontrak bersama Nordic Aviation Capital atau NAC.

Langkah lain adalah menguatkan bisnis kargo. Manajemen juga diharuskan melakukan upaya pemetaan ihwal pembiayaan sewa (leasing) pesawat. Erick mencatat, leasing pesawat Garuda mencapai 28% atau tertinggi di dunia. Hal ini menjadi sebab lain emiten menanggung beban keuangan.

Untuk menekan pengeluaran sewa itu, pemegang saham tengah berupaya melakukan negosiasi dengan sejumlah lessor atau perusahaan penyewa pesawat.

“Jadi, makanya kita sedang fokus negosiasi dengan lessor dan kita kategorikan ada dua, lessor yang klasifikasi korupsi sesuai dengan temuan KPK dll, kita tidak mau dalam negosiasi kita dilemahkan, silahkan saja ambil pesawatnya. Untuk B to B kemahalan, ya kita coba negosiasi ulang,” tuturnya.

4. BUMN Lakukan Negosiasi Sejumlah Lessor

Kementerian BUMN negosiasi dengan sejumlah lessor atau perusahaan penyewa pesawat perihal biaya sewa (leasing) pesawat PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Biaya sewa yang dipatok lessor terhadap Garuda Indonesia mencapai 28%.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, angka sewa pesawat itu paling mahal di dunia. Karena itu, pemegang saham mengambil langkah negosiasi dengan harapan ada pengurangan biaya sewanya.

Menariknya, dalam proses negosiasi, Erick tidak ingin tim konsultan hukum dan keuangan yang dibentuk pihaknya dilemahkan oleh pihak penyewa. Bahkan, dia mengancam akan mengembalikan pesawat yang dipakai Garuda bila kesepakatan negosiasi tidak sesuai target.

“Makanya kita sedang fokus negosiasi dengan lessor dan kita kategorikan ada dua, lessor yang klasifikasi korupsi sesuai dengan temuan KPK dan lain-lain, kita tidak mau dalam negosiasi kita dilemahkan, silakan saja ambil pesawatnya,” ujar Erick dalam sesi wawancara dengan IDX Channel,



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *