Connect with us

Nasional

Atasi Perubahan Iklim, Indonesia Dorong Sejumlah Proyek Emisi Nol Karbon 


Presiden Joko Widodo mengatakan, Kamis (22/4), Indonesia sedang mempercepat sejumlah proyek percontohan untuk mencapai target net zero emission atau emisi nol karbon menjelang Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (UNFCCC) ke-26 di Glasgow, Inggris pada November nanti.

Proyek pertama adalah Indonesia Green Industrial Park seluas 12.500 hektare di Kalimantan utara, yang menurutnya akan menjadi yang terbesar di dunia.

Selain itu, pemerintah juga sedang melakukan rehabilitasi hutan bakau atau mangrove seluas 620 ribu hektare sampai 2024, yang akan menjadi hutan bakau terluas di dunia dengan daya serap karbon yang mencapai empat kali lipat dibandingkan dengan hutan tropis.

Presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Leaders Summit on Climate secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 22 April 2021. (Foto: Biro Pers Istana Kepresidenan RI)

Presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Leaders Summit on Climate secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis, 22 April 2021. (Foto: Biro Pers Istana Kepresidenan RI)

Jokowi memaparkan sejumlah proyek itu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim atau Leaders Summit on Climate secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Kamis (22/4).

Untuk mencapai emisi nol karbon, Jokowi mengatakan, Indonesia sangat terbuka dengan investasi dan transfer teknologi terutama untuk transisi energi. Tidak hanya itu, dalam kesempatan ini Jokowi mengatakan peluang besar juga terbuka untuk pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai lithium, dan kendaraan listrik.

Indonesia, kata Jokowi, menyambut baik penyelenggaraan UNFCCC ke-26 di Inggris untuk hasil yang bisa diimplementasikan dan seimbang, serta menyambut baik target sejumlah negara menuju emisi nol karbon pada 2050 mendatang.

Indonesia, katanya, juga telah memutakhirkan Nationally Determined Contributions (NDC), untuk meningkatkan kapasitas adaptasi dan ketahanan iklim.

“Namun agar kredibel komitmen tersebut harus dijalankan berdasarkan pemenuhan komitmen NDC tahun 2030. Negara berkembang akan melakukan ambisi serupa, jika komitmen negara maju kredibel disertai dukungan real. Dukungan dan pemenuhan komitmen negara-negara maju sangat diperlukan,” paparnya.

Kawasan hutan bakau atau mangrove di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. (Courtesy: KLHK)

Kawasan hutan bakau atau mangrove di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. (Courtesy: KLHK)

Jokowi juga menegaskan sebagai negara kepulauan terbesar, dan pemilik hutan tropis, penanganan perubahan iklim merupakan kepentingan nasional Indonesia. Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, imbuhnya, Indonesia berhasil menurunkan laju deforestasi melalui kebijakan pemberdayaan dan penegakan hukum

“Penghentian konversi hutan alam dan lahan gambut mencapai 66 juta hektare, lebih luas dari gabungan luas Inggris dan Norwegia. Penurunan kebakaran hutan hingga sebesar 82 persen disaat beberapa Kawasan di Amerika Serikat, Australia dan Eropa mengalami peningkatan terluas,” kata Jokowi. [gi/ft]



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *