Connect with us

Nasional

BI & The Fed Beri Warning Soal Bitcoin, Apa Bahayanya?


 BI & The Fed Beri Warning Soal Bitcoin, Apa Bahayanya?

Jakarta, CNBC Indonesia – Kenaikan harga cryptocurrency sejak awal tahun menjadi perhatian Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (The Fed). Kedua bank sentral ini pun mengingatkan masyarakat soal bahaya berinvestasi di mata uang digital itu.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengatakan sebagian besar cryptocurrency dipakai sebagai taruhan pada kenaikan harganya dan belum mencapai status mekanisme pembayaran.

Pilihan Redaksi

Pasar Saham Sepi karena Bitcoin, Pedagang Kripto: Tak Benar!
5 Mata Uang Crypto yang Gerogoti Emas Hingga Saham
Apa itu Coinbase, Platform Belanja Aset Kripto Bitcoin Cs

“Cryptocurrency benar-benar kendaraan spekulasi,” ujar Jerome Powell kepada The Economic Club of New York dalam wawancara virtual dengan David Rubenstein, salah satu pendiri Carlyle Group. “Mereka tidak benar-benar digunakan secara aktif sebagai pembayaran.”

Powell pun membandingkan cryptocurrency dengan emas. “Selama ribuan tahun, manusia telah memberikan emas nilai khusus yang tidak didapatkannya dari industri logam” ujar Jerome Powell seperti dikutip dari CNBC International, Jumat (16/4/2021).

BI juga memberikan peringatan kepada masyarakat dalam menggunakan cryptocurrency. Mata uang digital ini tidak bisa dijadikan alat pembayaran resmi ready viewed karena hanya rupiah yang diakui sebagai satu-satunya alat pembayaran resmi di Indonesia. Bagi investor BI juga meminta untuk berhati-hati.

“Sebagai otoritas sistem pembayaran, kita masih melarang penggunaan cryptocurrency sebagai pembayaran. Tapi untuk investasi, bukan dengan kita (pengawasannya). Kita sudah mewanti-wanti risikonya, karena tidak ada underlying asset (aset dasar),” Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.

Sementara itu dalam berinvestasi, ada dua hal yang harusnya diperhatikan yakni return (imbal hasil) dan resiko. Asisten Gubernur & Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Filianingsih Hendarta mengatakan semuanya bergantung pada kemampuan menyerap resiko yang dilakukan para investor.

Menurutnya hal-hal inilah yang harus dimitigasi. Saat berinvestasi orang akan melihat likuiditas dari alat investasinya.

“Jadi kita harus memitigasi itu. Kalau investasi biasanya orang juga melihat ke-likuid-an dari alat investasinya, seberapa likuid. Kalau dibutuhkan, apakah dengan cepat (bisa dicairkan), itu juga mempengaruhi,” jelasnya.

link

“Sebagai otoritas sistem pembayaran, kita masih melarang penggunaan cryptocurrency sebagai pembayaran. Tapi untuk investasi, bukan dengan kita (pengawasannya). Kita sudah mewanti-wanti risikonya, karena tidak ada underlying asset (aset dasar),” Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono.





Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *