Connect with us

Headline

BNPB Bantah Disebut Larang WNI WNA Lakukan Tes Pembanding : e-Kompas.ID Lifestyle


BELUM lama ini beredar kabar yang menyatakan bahwa WNA dan WNI yang baru datang dari luar negeri dan menjalani karantina di hotel-hotel dilarang melakukan tes pembanding Covid-19.

Pernyataan ini dibantah oleh Kapusdatinkom BNPB, Ahmad Muhari, Phd dalam live streaming yang disiarkan di channel YouTube BNPB Indonesia, Jumat (16/7/2021)

Ahmad menjelaskan, dalam adendum SE8/2021 berisi surat tertulis terkait dengan boleh atau tidaknya para WNI WNA ini untuk mendapatkan tes pembanding. Berdasarkan surat Kasatgas Nomor B84A setiap WNI WNA yang melakukan karantina melakukan hak untuk melakukan tes pembanding di tiga laboratorium yang sudah kita rekomendasikan.

 Ahmad Muhari

“Ketiga lab yang direkomendasikan tersebut yakni Lab RSPAD Gatot Soebroto, Lab SRS Polri, Lab RS Cipto Mangunkusumo. Dengan ini semoga tidak ada lagi pernyataan yang mengatakan bahwa WNA WNI dilarang untuk mendapatkan tes pembanding. Itu hak mereka, dan itu kita jamin,” tegas Ahmad.

Koordinator Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kemenkes, dr. Imran Prambudi, MPH menjelaskan, ada tiga laboratorium yang ditunjuk pemerintah dan sudah tersertifikasi dan terstandarisasi oleh kementerian kesehatan. Artinya kalau sudah masuk dalam list ini, kualitasnya sudah terjaga dan SOP-nya sudah benar.

“Untuk melakukan tes pembanding itu adalah sampel yang sama. Harus diambil pada saat yang bersamaan, tetapi diperiksa ke laboratorium yang berbeda, bisa ke tiga atau empat laboratorium. Intinya kalau misalnya diambil sampelnya hari ini, kemudian besok malam keluar hasilnya, dan mau melakukan swab lagi pada keesokan harinya lagi, ini kami sebutnya swab ulang, bukan swab pembanding,” ucap Imran.

Dokter Imran menjelaskan bahwa tes pembanding ini tidak menutup kemungkinan seseorang mendapatkan hasil yang berbeda. Sebab banyak sekali faktor yang menentukan perbedaan terhadap hasil tes pembanding yang dilakukan antara laboratorium yang berbeda.

“Kalau menurut ahli, itu akan sangat mungkin berbeda. Karena alat PCR-nya beda, reagen yang berbeda, belum lagi saat pengambilan swab, misal kurang dalam, dan ada yang terlalu dalam. Itu juga akan mendapatkan hasil yang berbeda. Jadi semua kemungkinannya pasti ada. Cuman seberapa besar, kita belum tahu,” tuntasnya.

(DRM)



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *