Datang Jam 4 Pagi, Emak-Emak Berebut Bangku Paling Depan demi Anaknya di Sekolah hingga Diikat Tali : e-Kompas.ID Edukasi - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Datang Jam 4 Pagi, Emak-Emak Berebut Bangku Paling Depan demi Anaknya di Sekolah hingga Diikat Tali : e-Kompas.ID Edukasi

[ad_1]

JAKARTA – Tradisi unik hari pertama sekolah kembali terjadi di SDN 4 Kedokan Agung, Indramayu, Jawa Barat.

Puluhan orangtua murid rela datang sejak subuh demi mendapatkan kursi paling depan di kelas untuk anak-anak mereka. Pada Senin pagi (15/7/2024), suasana di depan gerbang sekolah sudah ramai sejak pukul 4 pagi.

Para orangtua dan murid antusias menunggu dibukanya gerbang sekolah. Begitu gerbang dibuka, mereka langsung berlari berebut masuk ke dalam kelas untuk mendapatkan kursi yang diinginkan.

Tradisi berebut kursi ini sudah menjadi kebiasaan di SDN 4 Kedokan Agung setiap tahun ajaran baru. Para orangtua percaya bahwa kursi paling depan di kelas akan membuat anak mereka lebih mudah menyerap pelajaran, lebih pintar, dan lebih dekat dengan guru.

“Ya, memang sudah tradisi disini. Kita percaya kalau anak duduk di depan, dia lebih fokus belajar dan lebih mudah mengerti pelajaran,” ujar Mustini, salah satu orangtua murid.


Follow Berita e-Kompas.ID di Google News

Dapatkan berita up to date dengan semua berita terkini dari e-Kompas.ID hanya dengan satu akun di
ORION, daftar sekarang dengan
klik disini
dan nantikan kejutan menarik lainnya

Bahkan, saking ingin mendapatkan kursi depan, beberapa orang tua sampai membawa tali plastik dan gembok untuk mengikat kursi dan meja agar tidak direbut oleh orang lain.

“Saya datang jam 4 pagi tadi, terus langsung ikat kursinya pakai tali plastik. Biar enggak diambil orang lain,” kata orang tua murid lainnya, Usmad.

Meskipun tradisi ini sudah berlangsung lama, pihak sekolah mengaku tidak bisa melarangnya. “Kami sudah berusaha untuk menghimbau para orang tua agar tidak berebut kursi, tapi tetap saja mereka melakukannya,” ujar Kepala Sekolah SDN 4 Kedokan Agung Usmad.

Usmad berharap agar kedepannya tradisi ini bisa diubah dengan cara yang lebih positif. “Mungkin kita bisa mencari solusi lain agar semua murid bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar,” pungkasnya.

Follow WhatsApp Channel e-Kompas.ID untuk update berita terbaru setiap hari

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID