Disparitas Terlalu Tinggi, Harga Solar Subsidi Bakal Naik? : e-Kompas.ID Economy - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Disparitas Terlalu Tinggi, Harga Solar Subsidi Bakal Naik? : e-Kompas.ID Economy



JAKARTA – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menugaskan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) dan PT AKR Corporindo Tbk untuk menyalurkan 15,1 juta kiloliter minyak solar sepanjang 2022.

Penetapan kuota yang tertuang dalam Keputusan Kepala BPH Migas Nomor 102/P3JBT/BPHMIGAS/KOM/2021 dan Nomor 103/P3JBT/BPHMIGAS/KOM/2021 tanggal 27 Desember 2021 dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta kemampuan keuangan negara.

Baca Juga: Solar Subsidi Langka, Saatnya Harga BBM Dinaikkan?

Direktur Eksekutif Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria mengatakan, pemerintah sudah waktunya berusaha mengurangi beban subsidi pada subsidi solar.

“Seharusnya sudah saatnya pemerintah setidaknya berusaha mengurangi beban subsidi pada BBM jenis solar,” kata Sofyano dalam pesan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu (9/1/2022).

Menurut dia, solar adalah bahan bakar yang disubsidi sangat besar, karena solar subsidi hanya dijual dengan harga Rp5.150 per liter sementara harga solar non subsidi mencapai sekitar Rp11.000 per liter, sehingga disparitas harga yang terjadi sangat besar atau sekitar Rp5.850 per liter.

Baca Juga: Atasi Kelangkaan Solar Subsidi, Pertamina Bakal Dapat Kuota Tambahan?

“Padahal penggunaan terbesar solar subsidi adalah untuk bisnis dan penggunaannya juga nyaris tak terukur. Hal ini beda dengan penggunaan elpiji (subsidi), per rumah tangga maksimal hanya menggunakan 3 tabung per bulan,” ujar Sofyano.

Namun, sampai saat ini pemerintah belum pernah terdengar akan mengkoreksi naiknya harga jual solar subsidi, apalagi berencana melakukan pengalihan subsidi kepada pengguna yang tepat sasaran sebagaimana yang akan dilakukan terhadap elpiji bersubsidi.


“Mengapa pemerintah belum mau mengoreksi naik harga jual solar subsidi. Ada apa ini? Apakah subsidi pemerintah terhadap solar tidak menjadi beban buat pemerintah dibanding misalnya dengan subsidi terhadap elpiji 3kg,” tanya Sofyano.

“Atau Pemerintah menilai pengguna solar subsidi selama ini sudah tepat sasaran sehingga subsidi solar menjadi tidak masalah buat pemerintah dan APBN,” katanya.

Menurut dia, solusi yang perlu dilakukan Pemerintah antara lain dengan mengoreksi naik harga jual solar subsidi, sehingga paling tidak rentang perbedaannya dengan solar non subsidi tidak sebesar seperti yang terjadi selama ini

“Ini seharusnya bisa dilakukan jika pemerintah merasa bahwa subsidi adalah beban terhadap APBN yang harus dikurangi dan jika tidak merasa sebagai beban APBN logikanya subsidi terhadap elpiji pun tidak pula jadi masalah buat APBN , dan ini akan dinilai adil oleh rakyat,” katanya.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *