Jerawatan hingga Berat Badan Naik Jadi Faktor Banyak Orang Pilih Putus KB : e-Kompas.ID Lifestyle - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Jerawatan hingga Berat Badan Naik Jadi Faktor Banyak Orang Pilih Putus KB : e-Kompas.ID Lifestyle



DI masa pandemi ini angka kehamilan memang mengalami peningkatan, karena banyak orang terpaksa lebih sering di dalam rumah. Di sisi lain, adanya Covid-19 ini membuat pemerintah kesulitan untuk menggencarkan edukasi Keluarga Berencana (KB).

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) mengatakan total peserta aktif KB di Indonesia saat ini mencapai 36.8 juta jiwa. Namun, hanya 57 persen dari perempuan usia subur yakni 15-49 tahun yang telah menikah yang menggunakan metode kontrasepsi moderen, sedangkan 34 persen pengguna KB berhenti menggunakan kontrasepsi karena alasan efek samping.

Beberapa efek samping yang membuat seseorang memutuskan untuk berhenti menggunakan alat kontrasepsi adalah berjerawat, rasa mual, sakit kepala, menstruasi tidak teratur, peningkatan berat badan, kram perut dan lainnya.

Lebih lanjut dr. Hasto menjelaskan melakukan program keluarga berencana berpengaruh pada kualitas Sumber Daya Manusia di masa depan. Karena jika terjadi ledakan penduduk karena banyaknya angka kelahiran yang tidak diinginkan, akan menjadi beban negara.

“Ingat ketika penduduknya surplus maka kualitasnya harus bagus, karena kalau kualitasnya tidak bagus akan jadi beban negara, akan ada kerawanan sosial, akan ada kemiskinan dan juga ancaman bagi negara,” kata dr. Hasto seperti dilansir dari Antara.

“Maka sekali lagi, surplus usia produktif harus diikuti dengan kualitas SDM yang unggul. Ingat juga 80 persen kemajuan suatu bangsa, ditentukan oleh SDM. Inilah peran kontrasepsi dalam mengantarkan kualitas SDM yang baik,” imbuhnya.

Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) mengenai pentingnya penggunaan kontrasepsi. Pasalnya, keluhan-keluhan efek samping dan itu ada 33 persen dan itu sebenarnya efek samping yang masih bisa dijelaskan dan bisa diterima. “Karena ia tidak tahu akhirnya ia putus pakai, ini yang harus kita hindari,” ujar dr. Hasto.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemberian edukasi mengenai pentingnya penggunaan kontrasepsi bertujuan untuk menjaga jarak kelahiran dan mencegah anak stunting.

Sebab, jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat mempengaruhi kondisi kehamilan, kelahiran, kesehatan ibu dan anak serta kurang gizi pada anak yang berpengaruh pada perkembangan anak khususnya di 1.000 hari pertama sehingga dapat menimbulkan stunting dan berat badan kurang.

“Itulah pentingnya melakukan konseling, kalau mau melahirkan anak jaraknya harus diatur, karena jarak itu sangat menentukan kualitas anak dan kualitas kesehatan ibunya sehingga kita promosi untuk penggunaan alat kontrasepsi itu harus terus dilakukan,” kata dr. Hasto.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *