Felix Kim
Korea Selatan dan Amerika Serikat memperdalam kolaborasi industri pertahanan mereka yang sudah lama terjalin dalam menghadapi provokasi dari Korea Utara dan ancaman terhadap berbagai negara lainnya yang ditimbulkan oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Rusia, demikian menurut para pejabat dan analis.
“Ketika Korea [Selatan] dan A.S. memperingati 70 tahun aliansi mereka, kedua negara itu berusaha untuk memperluas peran aliansi mereka di luar Semenanjung Korea baik dari segi geografi maupun fungsi,” ungkap Dr. Kim Jae Yeop, peneliti senior di Sungkyun Institute for Global Strategy di Sungkyunkwan University, kepada FORUM.
Kim Jae Yeop mengatakan sikap gabungan ini mewakili visi Aliansi Strategis Komprehensif Global, yang ditandatangani oleh presiden kedua negara pada Mei 2022.
A.S. tetap menjadi pemasok utama alutsista militer asing ke Korea Selatan selama beberapa dekade, demikian ungkap Kim Jae Yeop. Seiring berkembangnya ancaman dari Pyongyang, Seoul telah memperoleh sistem persenjataan yang semakin canggih dari pemasok A.S. seperti pesawat tempur siluman F-35, pesawat mata-mata tak berawak RQ-4 Global Hawk, dan versi rudal Patriot yang lebih canggih. Sementara itu, produsen pertahanan Korea Selatan telah mengembangkan aset pertahanan kelas dunia mereka sendiri seperti kapal perusak kelas Sejong the Great dan pesawat jet tempur multiperan T-50 Golden Eagle buatan Korean Aerospace Industries (KAI).
Perusahaan pertahanan di kedua negara telah berkontribusi pada pengembangan dan produksi produk alutsista satu sama lainnya.
Pada Juni 2023, divisi manufaktur kedirgantaraan maskapai penerbangan Korea Selatan, Korean Air, mulai mengirimkan badan pesawat untuk helikopter tempur ringan AH-6, produk Boeing yang berbasis di A.S. Raksasa pertahanan Raytheon, yang berkantor pusat di A.S., mengumumkan pada Maret 2023 bahwa pihaknya akan mengirimkan radar PhantomStrike barunya untuk dipasang di FA-50 KAI, pesawat terbang yang dikembangkan dengan bantuan dari Lockheed Martin yang berbasis di A.S.
KAI dan Northrop Grumman, perusahaan alutsista A.S. lainnya, menandatangani kesepakatan pada Januari untuk mengembangkan sistem udara tak berawak dengan kemampuan lepas landas dan pendaratan vertikal. Produsen alutsista Korea Selatan juga telah terikat kontrak sejak tahun 2016 untuk memasok komponen RQ-4 Global Hawk buatan Northrop Grumman.
Meskipun Hyundai Heavy Industries dan Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Korea Selatan merupakan produsen resmi kapal perusak kelas Sejong the Great, kapal ini dilengkapi dengan sistem tempur Aegis, sistem senjata angkatan laut komprehensif yang dikembangkan oleh Angkatan Laut A.S. dan beberapa kontraktor pertahanan A.S., termasuk Lockheed Martin, Raytheon, dan General Dynamics. Terlebih lagi, sistem propulsi utama kapal itu terdiri dari turbin gas yang dibuat oleh General Electric dari A.S.
Kerja sama industri pertahanan di antara kedua negara semakin matang seiring dengan tumbuhnya aliansi Korea Selatan-A.S., demikian menurut Eom Dong-hwan, Menteri Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (Defense Acquisition Program Administration – DAPA) Korea Selatan.
Eom Dong-hwan menyampaikan sambutannya pada konferensi di Washington, D.C. yang diselenggarakan oleh DAPA dan Center for Strategic and International Studies pada Maret 2023.
Dia mengatakan kerja sama bilateral ini telah berjalan selama tiga generasi. Generasi pertama melibatkan pengenalan sistem persenjataan A.S. di Korea Selatan melalui bantuan militer A.S. Generasi kedua melibatkan transfer teknologi dan investasi yang mengimbanginya ketika Seoul membeli sistem persenjataan A.S.
“Sekarang saatnya kita melanjutkannya ke generasi ketiga, ketika kita bersama-sama melakukan keseluruhan proses pengembangan gabungan, produksi gabungan, dan pemasaran gabungan terhadap sistem persenjataan itu,” ungkapnya.
Salah satu pencapaian tertinggi dari upaya industri pertahanan Korea Selatan-A.S. dapat dilihat dalam lonjakan ekspor alutsista Korea Selatan saat ini, demikian ungkap Kim Jae Yeop, dengan berbagai pelanggan di Australia, Finlandia, India, Norwegia, Filipina, dan Polandia yang berusaha melawan ancaman di lingkungan mereka sendiri.
“Negara-negara ini menentang apa yang disebut kekuatan besar revisionis seperti Tiongkok dan Rusia, seperti yang digambarkan oleh perang yang sedang berlangsung di Ukraina,” ungkapnya.
Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang berbasis di Seoul, Korea Selatan.
You must be logged in to post a comment Login