JEDDAH – Puncak ibadah haji membutuhkan fisik yang prima. Pelaksanaan rangkaian ibadah mulai dari wukuf di Arafah, Muzdalifah dan Mina yang di dalamnya ada prosesi lempar jumrah membutuhkan stamina dan kondisi badan yang bugar.
Karena itu, penting untuk jamaah haji menjaga kondisi badan mereka, terutama beberapa.hari menjelang puncak haji.
BACA JUGA:
Selain itu, jamaah haji terutama lansia dan risiko tinggi juga tidak perlu memaksakan diri untuk proses ibadah yang sifatnya bisa diwakilkan. Salah satunya adalah lempar jumrah.
Melempar jumrah merupakan salah satu wajib haji. Di mana setiap jamaah haji wajib melaksanakan proses lempar jumrah pada 10 Dzulhijjah maupun pada hari-hari tasyrik. Hanya saja jarak yang jauh bisa membuat jamaah haji kelelahan terutama lansia.
Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1444 H/2023 M Subhan Cholid mengimbau kepada jemaah lansia untuk tetap berada di tenda selama di Mina. Proses lempar jumrahnya bisa diwakilkan kepada jamaah lainnya dan itu sah.
“Sebab, untuk sampai ke jamarat, harus jalan kaki dan itu butuh energi luar biasa. Jarak terdekat antara tenda ke jamarat sekitar 3 km, kalau pergi pulang berarti 6 km. Sementara jarak terjauh mencapai 7 km, kalau pergi pulang berarti 14 km,” kata Subhan kepada Media Center Haji (MCH).
Jarak tersebut, tentu bagi jemaah lansia sangat berat. Karenanya bisa diwakilkan karena secara syar’i memang diizinkan untuk diwakilkan. Jamaah lansia tetap berada di tenda untuk berdoa dan berzikir, sementara lontar jumrahnya diwakilkan.
Follow Berita e-Kompas.ID di Google News
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis e-Kompas.ID.com tidak terlibat dalam materi konten ini.


You must be logged in to post a comment Login