Macron Tarik Dubes di AS dan Australia Terkait Konflik Kemitraan Keamanan : e-Kompas.ID News - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Macron Tarik Dubes di AS dan Australia Terkait Konflik Kemitraan Keamanan : e-Kompas.ID News



PRANCISPemerintah Prancis segera memanggil duta besarnya untuk Amerika Serikat (AS) dan Australia untuk berkonsultasi dalam menanggapi kemitraan keamanan nasional AS dengan Inggris dan Australia yang baru-baru ini diumumkan.

Duta Besar Prancis untuk AS, Philippe Etienne membenarkan berita itu ketika dihubungi untuk dimintai komentar oleh CNN. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, pada Jumat (17/9), dilaporkan bahwa Etienne bertemu sebentar dengan penasihat keamanan nasional, Jake Sullivan di Gedung Putih sebelum kembali ke Paris.

Pada Jumat (17/9), dalam sebuah pernyataan, Jean-Yves Le Drian, Menteri Prancis untuk Eropa dan Urusan LuarNnegeri, mengatakan bahwa langkah itu dibuat atas permintaan Presiden Emmanuel Macron.

“Keputusan luar biasa ini mencerminkan keseriusan luar biasa dari pengumuman yang dibuat pada 15 September oleh Australia dan Amerika Serikat,” terangnya.

(Baca juga: Prancis ‘Skorsing’ 3.000 Pekerja Layanan Kesehatan karena Tidak Divaksin Covid-19)

“Pengabaian proyek kapal selam kelas laut yang telah dikerjakan Australia dan Prancis sejak 2016 dan pengumuman kemitraan baru dengan Amerika Serikat yang bertujuan mempelajari kemungkinan kerja sama di masa depan pada kapal selam bertenaga nuklir merupakan perilaku yang tidak dapat diterima di antara sekutu dan mitra; di mana konsekuensinya memengaruhi konsep yang kami miliki tentang aliansi kami, kemitraan kami, dan pentingnya Indo-Pasifik bagi Eropa,” lanjutnya.

Sebelum memanggil Duta Besar Prancis, Le Drian sempat melontarkan kata-kata keras kepada AS tanggapan atas kesepakatan itu.

“Keputusan brutal dan sepihak ini sangat mirip dengan apa yang dilakukan mantan Presiden Donald Trump,” ujarnya.

(Baca juga: Prancis Naikkan Status Waspada Flu Burung)

Pada Sabtu (18/9), Jean-Pierre Thebault, duta besar Prancis untuk Australia, mengatakan bahwa dia “sangat sedih karena terpaksa harus pergi.”

“Saya masih yakin dengan kerjasama Prancis-Australia, Australia-Prancis. Saya pikir ini adalah kesalahan besar. Penanganan kemitraan yang sangat, sangat buruk karena kesepakatan ini bukan kontrak, melainkan sebuah kerjasama,” kata Thebault saat dia meninggalkan kediamannya.

“Aussies sesungguhnya, adalah orang-orang yang mengerti apa artinya menjadi pasangan, apa artinya saling memandang adalah yang paling penting bagi saya. Jadi saya menantikan pertama-tama untuk kembali karena itu akan menjadi pertanda baik bahwa sesuatu bisa dilakukan,” tambahnya.

Seorang pejabat Prancis mengatakan kepada CNN, langkah ini diyakini sebagai langkah pertama kalinya Prancis yang dilakukan di zaman modern.

Diketahui bahwa The New York Times-lah yang pertama melaporkan berita penarikan tersebut.

Awal pekan ini, pemerintah Prancis mengatakan bahwa mereka merasa dikhianati ketika Australia menarik diri dari kesepakatan pertahanan bernilai miliaran dolar yang ada, sebaliknya mereka menyetujui untuk mencapai kapal selam bertenaga nuklir melalui kesepakatan baru dengan Amerika Serikat dan Inggris.

Menteri Perumahan Prancis, Emmanuelle Wargon mengatakan pada Sabtu (18/9) bahwa Prancis masih “menunggu penjelasan” atas masalah ini. Berbicara di stasiun radio FranceInfo, dia mengatakan penarikan duta besar itu adalah peringatan dan reaksi yang diperlukan untuk peristiwa yang “tidak boleh terjadi di antara sekutu.”

“Pelanggaran kontrak ini merupakan hal yang mengejutkan dan pukulan yang sangat keras,” katanya.

“Diskusi harus dilakukan agar sekutu ini dapat membuat kasus mereka dimengerti kami dan agar kami dapat mengambil semua langkah yang diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu juru bicara Pentagon, John Kirby dalam sebuah pengarahan mengatakan Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin berbicara dengan Menteri Pertahanan Prancis pada Jumat (17/9) pagi.

Kirby mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam hal hubungan pertahanan dengan Prancis setelah pembicaraan antara kedua pemimpin.

“Maksud saya lebih banyak hal untuk dikerjakan, bahwa ada peluang dan tantangan bersama serta kepentingan bersama yang berkomitmen untuk terus dieksplorasi oleh kedua menteri,” terangnya.

“Memastikan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka adalah kepentingan bersama antara Amerika Serikat dan Eropa, dan kami akan melanjutkan kemitraan erat kami dengan NATO, UE, dan mitra lainnya dalam upaya semacam itu,” lanjutnya.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Emily Horne mengatakan Gedung Putih telah melakukan kontak dengan pemerintah Prancis mengenai keputusan untuk memanggil kembali utusannya ke Washington untuk konsultasi di Paris.

“Kami memahami posisi mereka dan akan terus terlibat dalam beberapa hari mendatang untuk menyelesaikan perbedaan diantara kami, seperti yang telah kami lakukan di poin lainnya selama aliansi panjang kami. Prancis adalah sekutu tertua kami dan salah satu mitra terkuat kami, dan kami berbagi sejarah panjang terkait nilai-nilai demokrasi bersama dan komitmen untuk bekerja sama menghadapi tantangan global,” ungkapnya.

Upaya untuk menyediakan Australia kapal selam bertenaga nuklir — sebuah langkah besar untuk melawan China ketika Presiden AS Joe Biden bekerja untuk membangun dukungan internasional untuk pendekatannya ke Beijing — adalah bagian dari kemitraan trilateral baru antara Amerika Serikat, Australia dan Inggris, dijuluki “AUKUS.”

Prancis akan kehilangan setara dengan USD65 miliar (Rp797 triliun) dari kesepakatan yang ada untuk menyediakan Australia kapal selam konvensional bertenaga diesel.

Kesepakatan yang dibatalkan dengan Prancis, pengekspor senjata global utama, diperkirakan akan membuat dampak ekonomi yang signifikan pada sektor pertahanan Prancis. Prancis juga akan kalah secara strategis di Indo-Pasifik, di mana negara itu memiliki kepentingan yang signifikan.

Pada Kamis (26/9), setelah kesepakatan kapal selam bertenaga nuklir dengan AS dan Inggris diumumkan, Australia secara resmi mengumumkan akan menarik diri dari kontrak sebelumnya untuk kapal selam konvensional dengan Prancis.

Kesepakatan dengan Paris telah berjalan selama bertahun-tahun. Australia sebelumnya berencana untuk mengakuisisi 12 kapal selam kelas serang konvensional dari Naval Group pembuat kapal Prancis, yang berhasil mengalahkan tawaran Jerman dan Jepang yang bersaing pada 2016.

Para pejabat AS pada Jumat (17/9) membela kesepakatan itu, dan baik Amerika maupun Australia telah mengindikasikan bahwa pemerintah Prancis tidak dibutakan oleh pengingkaran kontrak asli, dengan mengatakan para pejabat tinggi Prancis telah mengetahui keputusan tersebut oleh pemerintah Australia.

Seorang pejabat senior administrasi juga mengatakan para pejabat tinggi Amerika telah berkomunikasi dengan rekan-rekan mereka di Prancis tentang perjanjian baru sebelum dan sesudah diumumkan. “Saya akan menyerahkan kepada mitra Australia kami untuk menjelaskan mengapa mereka mencari teknologi baru ini,” tambah pejabat itu.

Pada Kamis (16/9) dalam konferensi persnya, Menteri Pertahanan Australia, Peter Dutton mengatakan bahwa keputusan untuk memilih kapal selam bertenaga nuklir Amerika dibandingkan kapal selam diesel konvensional Prancis didasarkan pada apa yang terbaik untuk kepentingan keamanan nasional.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *