Connect with us

Nasional

Masyarakat yang Tidak Mudik adalah Pahlawan Penanganan Pandemi

Masyarakat yang Tidak Mudik adalah Pahlawan Penanganan Pandemi


JAKARTA – Setiap pasca libur panjang diprediksi akan terjadi lonjakan kasus COVID-19 . Sehingga, menurut mantan Direktur WHO Asia Tenggara dan mantan Dirjen P2P Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama perlu dilakukan antisipasi menghadapi lonjakan kasus COVID-19 salah satunya dengan memperkuat persiapan bidang kesehatan.

“Kemungkinan kenaikan kasus sesudah libur lebaran, tentu mudah-mudahan peningkatan kasus jangan sampai tidak terkendali, tapi sebagai bentuk antisipasi maka setidaknya ada lima persiapan di bidang kesehatan yang dapat dilakukan,” ujar Tjandra dalam keterangan yang diterima, Jumat (14/5/2021). Baca juga: 4.123 Pemudik Positif COVID-19, Satgas: Hasil dari Skrining Random Polri

Pertama, kesiapan pelayanan kesehatan primer, baik Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lain yang sehari-hari biasa dikunjungi masyarakat. “Hal ini perlu dilakukan dalam sedikitnya dua hal yaitu kesiapan fasyankes primer kalau harus menerima konsultasi masyarakat tentang COVID-19. Dan bagaimana mereka menangani pasien yang dalam karantina mandiri di rumah masing-masing,” jelas Tjandra.

Kedua, persiapan menjamin agar sistem komunikasi dan rujukan tetap terjaga antara fasyankes primer dengan RS. “Ini juga punya dua area yaitu pertama bagaimana memudahkan kalau petugas kesehatan di layanan primer ingin berkonsultasi dengan para pakar di rumah sakit.”

“Kemudian adalah bagaimana sistem rujukan pasien yang akan di kirim ke rumah sakit serta yang sudah kembali dari rumah sakit. Sistem rujukan ini amat penting dan petugas kesehatan dilayanan primer perlu mendapat informasi yang selalu up to date tentang ketersediaan tempat tidur yang tersedia di RS mana di daerahnya, dan juga pasien-pasien yang sudah pulang dari RS yang mungkin masih perlu pemulihan di rumahnya,” sambungnya.

Ketiga, kesiapan rumah sakit. “Kesiapan rumah sakit sendiri, yang sudah banyak dibahas. Sedikitnya ada lima poin yang perlu disiapkan. SDM baik petugas kesehatan maupun petugas penunjang lainnya. Ketersediaan ruang rawat sampai mungkin perlu tenda darurat. Obat-obatan. Peralatan RS seperti ventilator dan oksigen,” kata Tjandra.

“Dan, alat pelindung diri (APD) dan mekanisme keamanan kerja petugas RS. Juga perlu dibuat sistem agar kalau memang terjadi kekurangan di salah satu dari lima poin ini maka bagaimana dapat ditangani secara cepat agar pasien dapat tertolong,” imbuhnya.

Keempat, persiapan untuk terus menjaga sistem surveilans dan pengumpulan data secara akurat. Hal ini, kata Tjandra, akan sangat penting karena situasi dapat sangat mudah berubah dan amat dinamis.

“Surveilans yang baik merupakan dasar utama dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam situasi seperti ini. Perlu pula disiapkan sistem komunikasi risiko yang baik, agar informasi yang diterima masyarakat tidaklah membingungkan,” paparnya. Baca juga: Cegah Penularan COVID-19, Satgas Siapkan Random Testing bagi Pemudik Saat Arus Balik

Kelima, kesadaran masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. “Kalau memang akan ada peningkatan penularan di masyarakat maka 3 M menjadi modal utama kita atau kalau di luar negeri disebut sebagai 3 W, wear a mask, wash your hand and watch the distance,” tegas Tjandra.

(kri)





Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar Covid-19

Teknologi

Advertisement