Membaca Manuver Moeldoko Ngopi Bareng Oposisi - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Membaca Manuver Moeldoko Ngopi Bareng Oposisi

[ad_1]

Ternyata serial Moeldoko masih panjang ya, makin seru, makin asik, endingnya nanti akan seperti apa…, mungkin sebagian pihak sudah bisa menebak hasil akhirnya nanti akan seperti apa.

Ada yang bilang AHY nyari panggung, ada yang bilang persoalan internal PD diselesaikan sendiri, jangan di publikasikan ke pers, ke publik, dll, nah atas semua itu yang ada nama AHY dan PD melambung. Tapi yang pasti konpers yang digelar sama AHY dan PD serta surat yang dikirim oleh AHY sebagai Ketum PD kepada Presiden, itu artinya serious, bukan persoalan remeh temeh, sebab kalau ngak serius, PD dan AHY ngak akan sampai sejauh itu.

Sekarang publik, pers, kalangan istana sudah tahu atas skandal tersebut, jadi ngak mungkin ditutup-tutupi lagi, semua harus diselesaikan dengan baik, dan publik, pers menunggu hal itu.

Presiden Jokowi sampai saat ini masih belum ada keterangan resmi, mungkin masih menunggu keterangan dan penjelasan dari Moeldoko. Sebab bagaimana mungkin akan menjawab permintaan dari Ketum PD kalau Kepala KSP nya saja belum memberikan penjelasan kepada dirinya, kepada Presiden.

Bola panas sudah di tangan Presiden, jadi terserah Presiden mau diapakan. Tapi suka ngak suka, mau ngak mau surat dari AHY Ketum PD harus dijawab oleh Presiden, kalau tidak dijawab, kalau diam, ya jangan salahkan publik yang beranggapan kalau Presiden, beberapa pejabat di istana tahu dan terlibat di dalam skandal kudeta PD yang gagal.

Semakin Moeldoko banyak bersuara di pers, ke publik, semakin Moeldoko mencari-cari alibi ini itu, maka Moeldoko akan semakin terjebak.

Dan apalagi kalau Moeldoko semakin defensif, apalagi kalau kerahin buzzer yang dengkulnya lebih besar dari otaknya maka Moeldoko akan semakin terkepung.

Moeldoko pastinya juga masih menyimpan beberapa magasin peluru, tapi itu pastinya juga akan habis, sebaliknya PD masih sangat banyak cadangan magasin pelurunya.

Di dalam lingkungan istana pastinya juga ada persaingan kekuasaan, saling amputasi juga pasti ada. Ketika Moeldoko terpeleset dan masuk ke dalam lumpur, pastinya ada yang senang di dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri. “Nah, rasain lu”

Moeldoko panik, hal itu bisa dibaca dari bahasa tubuhnya, bahasa verbal dan no verbal Moeldoko itu sendiri. Bahasa tubuh setidaknya menempati 50-70% dari seluruh porsi komunikasi yang kita lakukan, sisanya adalah komunikasi verbal. Dalam ilmu Behavioral Psychology, Mengetahui gerak mata, gerak tangan, sikap badan, dan lainnya saat berbicara dengan seseorang akan membuat kita bisa memanipulasinya memahami pikiran sebenarnya dari lawan bicara sehingga kita bisa menerapkan tindakan yang tepat.

Moeldoko pun mulai menyeret nama LBP, yang menurut saya tidak ada hubungannya juga, malah yang ada makin meluas, bisa menyerempet kemana-mana, malah makin eksternal, ngak internal lagi.

Sikap Moeldoko yang bawa² nama LBP bisa diartikan bahwa sebenernya dia, Moeldoko sedang mencari cara perlindungan dari seniornya, dari Jenderal yang lebih senior. Moeldoko ingin agar LBP yang menjembatani persoalan antara dirinya dan PD.

Seperti di ketahui bersama bahwa SBY seniornya Moeldoko, selisih 8 tahun di Akabari, SBY alumni Akabri 73, sementara Moeldoko alumni Akabri 81, jadi terpaut lumayan jauh. Moeldoko juga pernah jadi bawahan langsung SBY, bahkan diangkat jadi KSAD dan Panglima TNI oleh SBY. Dan bisa di liat, googling aja, betapa inferiornya seorang Moeldoko kepada SBY. Sementara LBP seniornya SBY, LBP alumni Akabari 70. Jadi itu dugaan, analisa kenapa dan mengapa tiba² Moeldoko menyeret nama LBP. Coba bayangin dalam benaknya LBP; “Sialan kau, bawa² namaku, kau yang bikin ribut juga”

Jadi memang lebih baik, Moeldoko bilang dengan jujur, apa adanya, biar segera selesai, jangan denial, sebab saya yakin Demokrat pasti sudah punya bukti². Dan kalau dibuat makin panjang serinya ya silahkan aja, asal sudah siap terima rumor² yang ngak sedap, misalnya seperti rumor keterkaitan Moeldoko dengan korupsi di tubuh Asabri.

Kalau dilihat kasihan juga Moeldoko yang dibela buzzer², artinya Moeldoko punya beban yang begitu besar buat membuktikan dirinya tidak bersalah, tidak ada kaitan dengan kudeta di tubuh PD. Moeldoko pun juga bisa melaporkan AHY ke Bariskrim Polri, kalau merasa tidak ada hubungan atas dugaan kudeta di tubuh Demokrat, tapi hal itu ngak dilakukan kan.

Atau mungkin Moeldoko bisa minta bantuan orang lain yang tentunya memiliki kedekatan antara Jokowi, SBY, AHY, LBP buat ngomong. Sebab gangguan, ancaman terbesar bagi Moeldoko bukan dari Demokrat, tapi dari internal istana itu sendiri.

Saya ngak bela Moeldoko, karena saya bukan buzzer, dan saya juga tidak bela AHY, sebab AHY ngak perlu dibela, karena AHY sudah bisa membela dirinya sendiri.

Secangkir kopi politik akan terasa nikmat jika takarannya pas.

Demikian.



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID