Connect with us

Nasional

MEMOAR CAMBUK BERDURI TENTANG JEMBER JADUL – – SastraMagz.com



Mashuri *

banner 300250

“Pada 1930an, ada dua suratkabar menarik di Jember. Mingguan “Pembrita” pimpinan Kwee Thiam Tjing dalam bahasa Tionghoa-Jawa serta “De Oosthoek Bode” pimpinan Brunswijk van Hulten dalam bahasa Belanda. Di tanah Birnie, kedudukan orang Belanda lebih menonjol dibanding kota-kota lain di Jawa.” –Andreas Harsono

Jember punya dua koran. Itulah yang terjadi tempo doeloe, sebagaimana pernyataan Andreas Harsono yang dikutip di awal ngablak ini. Namun, di antara dua koran itu yang dianggap revolusioner dan berperan sebagai media kontrol sosial dan pembela kebenaran adalah “Pembrita” Jember. Pasalnya, koran yang terbit mingguan ini dikomandani Kwee Thiam Tjing. Dia dikenal sebagai insan pers yang berpikiran merdeka dan garang dalam memperjuangkan hak-hak publik, bahkan ia punya nama alias yang menakutkan: “Tjambuk Berduri”.

Ihwal laju “Pembrita” diuraikan sendiri oleh Kwee dalam sebuah kolomnya di koran “Indonesia Raya” dengan judul “Pembrita 10 Maret 1934” dimuat 19—20 Juli 1972, yang disambung pada 20—26 Juli 1972. “Pembrita” Jember berisi kutipan dari berbagai surat kabar lain yang dianggap penting, ditambah dengan sebuah cerita bersambung yang digandrungi pembaca pada saat itu, berjudul “Darah Kotor”. Yang mengurus “Pembrita” adalah Kwee Thiam Tjing sebagai pimpinan redaksi, dan Tan King Djien sebagai kepala bagian administrasi. Kwee menulis sebagai berikut:

“Di tahun 1933 saja (Kwee, red) pindah ke Djember dan disana terbitkan djuga surat kabar mingguan “Pembrita”, jang isinja kutiban lain2 surat kabar punja kabaran penting. Lebih djauh djuga pada pembatja disugukan tulisan redaksi (dalam hal ini saja sendiri jang mewakili redaksi; administrasi dipegang oleh Tan King Djien) dan tjerita bersambung “Darah Kotor”.”

“Pembrita” nongol pertama kali tanggal 30 November 1933. Memang terhitung telat apabila dibandingkan dengan kemunculan koran-koran lain. Bahkan, koran sejenis yang bernama “Pembrita” Betawi, nongol pertama kali pada 24 Desember 1884. Terhitung hampir 50 tahun sebelumnya. Namun, ibarat pepatah, lebih baik terlambat daripada ngaplo. Generasi masa kini pun patut mengapresiasi kehadiran “Pembrita” Jember, apalagi gebrakannya termasuk berani pada masanya. Terdapat beberapa keberhasilan yang mendahului zamannya.


Berdasarkan memoar Kwee Thiam Tjing dalam buku “Menjadi Tjamboek Berdoeri” (2010) yang sebelumnya berupa kolom bersambung berjudul “Bahasa Bogem Mentah” dimuat “Indonesia Raya” 20—26 Juli 1972, terdapat uraian tentang ‘cara-cara merdeka’ Kwee dalam memenangkan persaingan untuk mengadakan acara di Jember dan mendapatkan advertensi, alias iklan, dari pembesar Jember pada masa itu. Saingannya tentu saja koran tetangga sendiri, yaitu “De Oosthoek Bode”. Ihwal tersebut, Kwee menulis sebagai berikut:

“Di Djember ada djuga terbit “De Oosthoek Bode”, djuga seminggu sekali, tetapi dalam bahasa Belanda dan diterbitkan serta dikemudikan oleh Brunswijk van Hulten, seorang Belanda jang amat angkuh sikapnja karena merasa ada di Djember di “tanah Birnie”, pioneer dari perusahaan tanam tembako. Umumnja memang Belanda di bilangan sana di waktu itu lebih menondjol kedudukannja dibanding dengan golongannja jang hidup di kota-kota besar.

Tadinya antara Brunswijk dan saja (Kwee, red.) tidak ada apa-apa, dalam arti ia anggap sebagai angin dan saja pun begitu terhadap dia”

Tetapi karena “Pembrita” selalu dapat advertensi dari Regenschapsraad (Dewan Kota), membuat Brunswijk dengki. Puncaknya adalah ketika Kwee berhasil menggandeng pembesar Jember masa itu di Jember untuk bikin acara pasar malam di Alun-alun Jember, iri hati Brunswijk semakin tak ketulungan. Tentang acara pasar malam itu Kwee menulis dengan kocak:

“Waktu buat pertama kali pasar malam dibuka, saja sebagai secretaries plen comite diminta untuk berpidato. Maklum, di waktu itu kalau mesti mendadak angkat bitjara di hadepan Kandjeng Tuan Resident, Kandjeng Boepati dan Kandjeng Tuan Asisstent Resident, rasanja tenggorokan dirasanya kering.

Tetapi buat saja, djurnalis jang selalu hidup dalam suasana merdeka, itu semua saja anggap biasa sadja. Dan ini hal bikin si Brunswijk gondoknja djadi kembar. Pun saja oleh comite “dipersen” zonder sewa tanah di sekitar puhun waringan di tengah2 aloon2 (di mana pasar malam diadakan) buat bikin stand restoran di mana isteri saja dengan pembantu2nja sediakan soto Madura (isteri saja kelahiran Pamekasan) dan lain2 makanan”.

Sebenarnya menarik untuk meneruskan ketegangan antara Kwee dengan Brunswijk, yang juga terkait pemberitaan media masing-masing, tetapi saja, eh saya, khawatir ngablak ini kepanjangen. Dari kolom dan memoar Kwee, yang patut dicatat adalah beberapa terobosan gemilang yang dilakukan “Pembrita”, dengan Kwee sebagai dedengkotnya. Pertama, menggelar pasar malam di Alun-alun Jember dengan bantuan Boediardjo, wedana kota Jember, Helms, komisaris polisi kota, dan Kho Hong Phing, letnan Tionghoa Jember.

Selain itu, adalah menggelar rapat terbuka committee van actie (komisi aksi), yang dihadiri oleh 31 perkumpulan, masing-masing mewakili warga Tionghoa, pribumi, dan Arab di Jember. Tujuannya mendesak agar seluruh tarip Aniem (singkatan dari Algemene Nederlandsh Indisch Electricitiet Maatschapaij, yang di kemudian hari bermetamorfosa menjadi PLN) dan pelayanan air minum diturunkan. Rapat itu membuahkan hasil yang mencengangkan! Londo keok, Coy!
Demikianlah.

MA
On Sidokepung, 2021

*) Mashuri, lahir di Lamongan, Jawa Timur, 27 April 1976. Karya-karyanya dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan terhimpun di beberapa antologi. Dia tercatat sebagai salah satu peneliti di Balai Bahasa Jawa Timur. Tahun 2018, bersama Sosiawan Leak dan Raedu Basha, dipercaya jadi kurator yang bertugas memilih narasumber dan menyeleksi para peserta Muktamar Sastra. Hubbu, judul prosanya yang mengantarkan namanya meraih predikat juara 1 Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), tahun 2006. Dia menggeluti hal-ihwal terkait tradisionalitas dan religiusitas. Mashuri, merupakan lulusan dua pesantren di tanah kelahirannya. Dia menyelesaikan pendidikannya di Universitas Airlangga dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Di luar aktivitas pendidikannya, berkiprah di Komunitas Teater Gapus, dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) Surabaya.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *