Connect with us

Nasional

Musibah dan Sakit Bisa Menghapuskan Dosa, Ini Penjelasannya

Musibah dan Sakit Bisa Menghapuskan Dosa, Ini Penjelasannya


BANYAK orang sudah mengetahui junk food atau makanan cepat saji tidak baik untuk kesehatan tubuh. Beberapa studi bahkan telah menunjukkan bahwa junk food meningkatkan obesitas, penyakit jantung dan diabetes, serta penyakit kronis lainnya.

Para peneliti juga telah menunjukkan melalui berbagai studi bahwa junk food dapat menyebabkan kerusakan serius pada otak. Hal yang mengkhawatirkan adalah mengonsumsi junk food secara terus-menerus selama beberapa hari saja dapat menyebabkan kerusakan psikis.

Baca juga: Peneliti Sebut Pandemi Sebabkan 6 Gangguan Makan 

Makin banyak junk food yang dikonsumsi, maka makin kecil mendapat nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh. Anda tahu bahwa junk food dapat mengganggu kesehatan, tetapi mungkin belum mengetahui bahayanya terhadap fungsi otak.

Dikutip dari laman NDTV, Rabu (19/5/2021), berikut lima efek berbahaya junk food terhadap otak.

Ilustrasi otak. (Foto: Shutterstock)

1. Dapat menyebabkan masalah memori dalam belajar.

Sebuah studi yang diterbitkan American Journal of Clinical Nutrition pada 2011 menunjukkan bahwa orang sehat yang makan junk food hanya selama 5 hari menunjukkan hasil buruk pada tes kognitif yang mengukur perhatian, kecepatan, dan suasana hati.

Disimpulkan bahwa makan junk food selama 5 hari secara terus-menerus bisa merusak daya ingat. Hal ini mungkin berasal dari fakta bahwa pola makan yang buruk atau beracun dapat menyebabkan reaksi kimia tertentu yang membuat peradangan di area hipokampus otak yang berhubungan dengan memori dan pengenalan khusus.

2. Meningkatkan risiko demensia.

Ini telah menjadi salah satu penemuan paling menakutkan yang terkait konsumsi junk food. Anda mungkin tahu bahwa insulin diproduksi di pankreas dan membantu pengangkutan glukosa untuk bahan bakar tubuh. Insulin juga diproduksi di otak yang membantu membawa sinyal antar sel saraf dan membentuk ingatan.

Sebuah studi yang dilakukan di Brown University menunjukkan bahwa terlalu banyak makanan berlemak dan makanan manis dapat meningkatkan kadar insulin dalam tubuh. Sama seperti dalam kasus diabetes tipe 2, dengan tingkat insulin yang lebih tinggi, otak berhenti merespons hormon ini dan menjadi tahan terhadapnya. Hal tersebut dapat membatasi kemampuan berpikir, mengingat, atau membuat ingatan; sehingga meningkatkan risiko demensia.

Baca juga: Heboh Balita Pesan Banyak Makanan Cepat Saji, Ibunya Kaget Bukan Kepalang! 

3. Mengurangi kemampuan otak untuk mengontrol nafsu makan.

Konsumsi berlebihan lemak dalam gorengan dan makanan olahan dapat mengirimkan sinyal ke otak yang membuatnya sulit memproses apa yang telah dimakan dan seberapa lapar. Ini mungkin penyebab makan berlebihan.

Fungsi otak yang sehat membutuhkan dosis harian asam lemak esensial seperti omega 6 dan omega 3. Kekurangan kedua elemen ini meningkatkan risiko gangguan attention deficit disorder, demensia dan gangguan bipolar, serta masalah terkait otak lainnya.

4. Dapat menyebabkan perubahan kimiawi yang menimbulkan depresi.

Banyak studi menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak akan mengubah aktivitas kimiawi otak sehingga lebih bergantung pada makanan tersebut. Kemudian dengan mengonsumsi terlalu banyak makanan cepat saji, mungkin kehilangan nutrisi penting seperti asam amino triptofan, yang kekurangannya dapat meningkatkan perasaan depresi. Ketidakseimbangan asam lemak adalah penyebab lain mengapa orang yang mengonsumsi banyak junk food berisiko lebih tinggi mengalami depresi.

Baca juga: Gordon Ramsay Jual Burger Harganya Rp1,5 Juta, Mau Beli? 

5. Membuat tidak sabar.

Junk food bisa membuat diri menjadi tidak sabar, selalu terburu-buru, dan dapat menyebabkan keinginan yang tidak terkendali. Makan cupcake atau donat yang manis untuk sementara waktu dapat meningkatkan kadar gula darah sehingga membuat merasa bahagia dan puas. Tetapi begitu mereka kembali normal, maka tubuh akan merasa makin mudah tersinggung.

Jika kadar gula turun ke tingkat yang sangat rendah, bisa menyebabkan kecemasan, kebingungan, dan kelelahan. Dengan kandungan gula dan lemak yang tinggi, bakal cenderung makan terlalu cepat dan terlalu banyak untuk memuaskan keinginan.

Ini dapat menanamkan perilaku tidak sabar saat menghadapi hal-hal lain. Makanan cepat saji dan makanan olahan mungkin sarat dengan perasa dan pengawet buatan seperti natrium benzoat yang cenderung meningkatkan hiperaktif.

Ilustrasi junk food. (Foto: Shutterstock)





Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar Covid-19

Teknologi

Advertisement