QATAR – Qatar menjadi salah satu negara yang semakin kaya imbas adanya perang Rusia dan Ukraina.
Dengan jumlah penduduk kurang dari tiga juta jiwa, negara kecil di Tanah Arab itu menjadi penting bagi Eropa untuk menggantikan impor energi dari Rusia.
Bersama Australia, Qatar merupakan pengekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia dan berpotensi menjadi sekutu komersial bagi negara-negara Uni Eropa, yang hampir 40% kebutuhan gasnya didapat dari Rusia.
Ketergantungan energi Eropa terhadap Rusia bukan menjadi masalah besar sampai Kremlin memutuskan untuk menyerang Ukraina pada bulan Februari lalu, yang membuat hubungan komersial kedua pihak di ambang kehancuran.
Eropa telah memulai kesepakatan jangka panjang untuk meningkatkan impor gas dari negara lain, tetapi langkah ini bukan solusi yang cukup untuk mengimbangi potensi kerugian jika menghentikan impor gas Rusia.
Baca juga: Nyamar Jadi Sopir, Anggota Pussy Riot Lolos dari Polisi Rusia
Jerman belum bisa menerima kapal LNG dari negara lain karena perlu membangun fasilitas untuk memprosesnya, sebuah rencana yang mungkin memakan waktu tiga hingga lima tahun, menurut perhitungan pemerintah.
Terlepas dari kesulitan logistik dan mengingat keadaan yang mendesak, Habeck mengatakan: “Kita harus mencoba langkah yang tidak praktis.”
Dan, Jerman mengambil kebijakan untuk menggunakan terminal LNG terapung, yang mampu menerima produk gas dari tempat-tempat yang jauh seperti AS atau Qatar.
Beginilah cara Qatar memasuki meja perundingan dengan posisi yang baik saat perang Ukraina berlangsung, tepat pada saat Qatar telah melakukan investasi secara signifikan untuk meningkatkan produksi dan infrastruktur gas.
“Tentu saja ada peluang untuk Qatar,” kata Karen Young, peneliti senior dan direktur program ekonomi dan energi di lembaga pemikir Middle East Institute, di Washington D.C., kepada BBC Mundo.
Baca juga: Ukraina Akan Hentikan Aliran Gas Rusia ke Eropa
Rencana ekspansi
Qatar punya rencana untuk meningkatkan kapasitas ekspor sekitar 60% pada tahun 2027 sebelum perang dimulai. Peluang jangka menengah untuk memasok LNG ke Eropa “akan menjadi keuntungan, baik secara ekonomi jika kesepakatan tercapai dengan harga saat ini, dan secara politik,” katanya.
Baca juga: Gagal Rebut Pulau Ular, 3 Pesawat dan 10 Helikopter Ukraina Ditembak Jatuh
Ekspansi tersebut akan memungkinkan Qatar meningkatkan kapasitas produksi LNG dari 77 juta menjadi 110 juta ton pada tahun 2025, seiring dengan permintaan produk yang terus meningkat.
Tidak hanya Jerman yang telah melakukan pendekatan ke Qatar untuk mengamankan impor LNG tambahan. Beberapa negara-negara tetangganya juga melakukan hal yang sama.
Baca juga: Ekonomi Rusia di Ambang Kehancuran Imbas Perang! Diprediksi Minus 12%, Terburuk sejak 1994
Urgensi untuk mendapatkan sumber energi yang baru menjadi lebih genting dan mendesak dalam beberapa pekan terakhir, setelah Rusia memutuskan pasokan ke Polandia dan Bulgaria di tengah aksi perang.
Negara kaya semakin kaya
Dengan jumlah kekayaan per kapita yang lebih besar dari Swiss atau Amerika Serikat, Qatar tampaknya sedang berada di jalur yang sempurna untuk menjadi lebih kaya.
Bukan hanya dari Eropa, permintaan LNG juga tumbuh di negara-negara belahan bumi lain.
Saat ini, hampir 80% ekspor LNG Qatar ke Asia, dengan Korea Selatan, India, China, dan Jepang sebagai pembeli utama.
Dan berdasarkan volume pasar, China menjadi importir LNG terbesar di dunia setelah menandatangani kesepakatan dengan Qatar untuk jangka waktu 15 tahun.
Dengan meningkatnya permintaan dari pasar Asia dan Eropa, para ahli memprediksi, Qatar kini berada di posisi terbaik untuk meraih kontrak yang menguntungkannya.
Meskipun semuanya tidak akan terjadi dalam waktu dekat, perusahaan raksasa milik negara, Qatar Energy, terus memompa gas dengan kapasitas penuh.
Sebagian besar hasilnya akan dijual ke pihak-pihak di bawah kontrak-kontrak multi-tahun, yang menurut Doha tidak akan dibatalkan untuk mengalihkan pasokan ke Eropa.
Namun, beberapa perusahaan seperti Morgan Stanley memperkirakan, keputusan Eropa untuk mengimpor gas dari negara lain akan mendorong kenaikan 60% konsumsi LNG global pada tahun 2030
Selama skenario itu terus berlangsung, ekonomi Qatar diprediksi akan tumbuh lebih dari 4% tahun ini, menurut Citigroup.
Ini merupakan lompatan terbesar negara yang pernah diboikot oleh negara-negara Teluk sejak 2015.
You must be logged in to post a comment Login