Sejarah Singkat Hocho, Pisau Dapur Jepang yang Digunakan Banyak Chef - e-Kompas.ID
Connect with us

Nasional

Sejarah Singkat Hocho, Pisau Dapur Jepang yang Digunakan Banyak Chef

[ad_1]


By Ibu Eva Latifah

Hari raya Idul fitri baru saja berlalu. Satu tradisi berkait hari raya Idul Fitri adalah permohonan maaf. Dengan meningkatnya pemahaman tentang hakikat Ramadhan, permohonan maaf tak lagi hanya dilakukan saat hari raya. Pesan permohonan maaf kini pun dikirimkan menjelang bulan Ramadhan. Dengan harapan bahwa ibadah puasa dapat dijalankan dengan hati bersih dan suci. 

Kita patut bersyukur karena vibes maaf-memaafkan tidak hanya dirasakan oleh umat muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan. Perkembangan teknologi memudahkan kita untuk saling mengirimkan permintaan maaf dalam grup yang tidak selalu homogen. Atmosfer maaf dinyatakan dan terbentuk dalam masyarakat Indonesia, dengan ragam agamanya. Momen ini tentu memberi satu kekuatan besar dalam membuka hati untuk meminta dan menerima maaf. Di sinilah maaf dengan sebenarnya dirayakan.

Image source : tribunnews bogor

Maaf sejatinya adalah kata yang sulit untuk diutarakan. Apalagi jika itu adalah pengakuan atas sebuah kesalahan atau penyesalan. Daniel Water, PhD menyebutkan bahwa meminta maaf dapat menimbulkan dampak positif dan negatif bagi seseorang, tergantung pada “ikhlas” atau tidaknya ucapan maaf tersebut (health.kompas.com). Meminta maaf bukanlah perkara mudah karena bagi sebagian orang hal tersebut dapat mengancam harga diri, membuat malu, enggan memikul kesalahan orang lain, khawatir kesalahan lain terungkap, dan takut jebolnya pertahanan psikologis. Dengan begitu, Idul Fitri sesungguhnya memberi ruang pada setiap insan untuk mendulang maaf dengan penuh keikhlasan.

Tidak seperti di Indonesia, Korea tidak memiliki tradisi khusus untuk meminta maaf. Korea memang tidak mempunyai festival atau hari raya yang identic dengan saling maaf memaafkan, seperti saat Idul Fitri. Meskipun demikian, bukan berarti masyarakat Korea tidak pernah meminta maaf. Bukan berarti juga mereka tidak mengerti cara meminta maaf. Ada beberapa hal yang menunjukkan kebesaran hati orang Korea saat meminta maaf. Dan itu sangat erat dengan budaya yang melatarinya.

Maaf dalam Kosakata Korea

Tidak ada kosakata asli bahasa Korea untuk mengucap maaf. Kosakata미안하다 mianhada dan 죄송하다 jwesonghada yang umum digunakan untuk menyatakan maaf bukanlah kosakata asli bahasa Korea. Kata mian dan jwesong berasal dari hanja, tulisan klasik Cina yang digunakan sebelum ada hangeul. Tidak mengherankan bila ada banyak kosakata dalam bahasa Korea yang berasal dari hanja, salah satunya kosakata terkait maaf ini.

Pembahasan mian dan jwesong yang banyak diangkat dalam situs-situs di Korea lebih pada perbedaan bahwa mian digunakan bagi lawan bicara yang sederajat atau yang lebih muda dari kita. Sedangkan kata jwesong, lebih tepat jika digunakan secara formal untuk meminta maaf pada orang yang lebih senior atau lebih tinggi kedudukannya dari kita. 

Selain dua kata tadi, kata lain yang juga kerap dipakai untuk mengucap maaf adalah 용서하다 yongseohada. Ada juga kata 송구하다 songguhada yang sering kita dengar sebagai permohonan maaf dalam drama-drama sageuk. Sedangkan 사죄하다 sajwehada merupakan salah satu ucapan permohonan maaf yang punya nuansa lebih berat. Umumnya digunakan dalam kasus permohonan maaf yang dilakukan oleh pelaku kriminal. 

Image source : idsn.co.kr

Sebagai ganti ucapan “maaf”, kadang kita dapat melihat bahwa orang Korea mengucapkan 잘 못했다 jal muthetta atau saya bersalah. Bila ditelusuri, beragam kata maaf dalam bahasa Korea di atas sebenarnya mengandung makna pengakuan salah dan penyesalan. Oleh karena itu, ucapan “saya salah” dianggap sebagai ucapan yang lebih konkrit dari “saya minta maaf”. Hal ini menunjukkan kebesaran hati orang Korea dalam mengakui kesalahan sendiri. 

Apel dan Maaf

Image source : brunch.co.kr

Pengakuan diri atas kesalahan yang diperbuat tentu memerlukan keluasan jiwa. Tidak semua mampu untuk mengakui kesalahan sendiri. Itulah mengapa dalam bahasa Korea, kosakata mian juga memiliki nuansa “malu”. Perasaan malu dan tidak nyaman saat melakukan kesalahan terhadap orang lain inilah yang mendorong orang untuk meminta maaf.

Untuk mengurangi rasa malu saat mengucapkan maaf kepada orang lain, beberapa orang Korea mengekspresikannya dengan memberikan hadiah buah apel. Buah apel sebagai ganti kata “maaf” mungkin hanya dapat ditemukan di dalam budaya Korea. Mengapa? Karena salah satu kosakata bahasa Korea yang berbunyi 사과 sagwa mempunyai dua arti, yaitu apel dan maaf.

Dalam buku esai 언어의 온도 eoneo-eui ondo atau temperature bahasa, Lee menyoroti bagaimana masyarakat Korea saat ini terkadang enggan mengucap maaf. Bagi Lee, kata maaf mempunyai temperatur hangat. Sayangnya, tidak semua orang mampu meresapi hangatnya kata maaf. Lee kemudian bercerita tentang seniornya yang secara diam-diam meletakkan buah apel di atas meja kerjanya. Sang senior menyadari kesalahannya, tetapi pada saat yang sama enggan untuk mengakui secara langsung kesalahan itu. Sagwa menjadi bentuk “pernyataan malu-malu” atas kata maaf. 

Berlulut Sebagai Pernyataan Maaf

Dalam budaya Korea, ada satu kebiasaan untuk menyatakan maaf dengan 무릎 꿇다 mureup kkurhta atau berlutut. Sebenarnya berlutut sebagai bentuk permohonan maaf atau pengakuan kesalahan bukan hanya ditemukan dalam budaya Korea, tetapi juga di dalam budaya Barat. Dalam ilemonde.com disebutkan bahwa Perdana Menteri Jerman Willy Brandt pernah berlutut di depan Menara peringatan korban Nazi di Warsawa, Polandia pada tanggal 7 Desember 1970. Ia mewakili masyarakat Jerman untuk meminta maaf atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan selama era Nazi.

Image source : hani.co.kr

Di Korea, peristiwa permohonan maaf dengan berlutut dilakukan oleh Kim Jong-in, mantan Ketua Komite Tanggap Darurat Partai Persatuan Masa Depan. Ia berlutut di depan Monumen Gerakan 18 Mei Gwangju untuk meminta maaf pada masyarakat Gwangju. Dalam wawancara yang dikutip wartawan dalam media online hani.co.kr, Kim mengaku “Saya meminta maaf pada penduduk Gwangju. Saya malu dan terus malu, menyesal dan terus menyesal…”. Gerakan Demokratisasi Gwangju 18 Mei adalah gerakan pemberontakan rakyat di kota Gwangju yang menentang pemerintahan darurat militer Chun Duhwan yang mengambil alih kekuasaan setelah presiden Park Chunghi terbunuh pada tahun 1979. Perlakuan militer yang brutal terhadap rakyat yang melakukan aksi damai meninggalkan duka dalam bagi rakyat Gwangju. Aksi berlutut barangkali mewakili permohonan maaf, rasa malu, dan menyesal atas apa yang telah terjadi. 

Kata-kata bijak menekankan bahwa orang yang meminta dan memberikan maaf adalah orang kuat. Mengucapkan dan menerima maaf, sama-sama menuntut kebesaran hati. Bahkan untuk peristiwa besar yang membawa luka sejarah. Forgiven not forgotten bisa jadi mewakili perasaan rakyat Gwangju hingga saat ini. 

Penutup

Dari penjelasan di atas, dapat dimengerti mengapa di Korea tidak ada tradisi untuk mengucap maaf yang dilembagakan dalam bentuk hari raya atau festival. Tidak adanya kosakata asli bahasa Korea yang merujuk pada “maaf” menjadi alasan di baliknya. Hal ini bisa dipahami bahwa masyarakat Korea tidak mewujudkan “maaf” dalam bentuk kata-kata, yang bisa jadi hanya sampai di mulut saja. Permohonan maaf dalam tradisi Korea berupa pengakuan kesalahan (seperti kasus pernyataan 잘 못했다 jal muthetta atau saya bersalah) dan perwujudan sikap (yang ditunjukkan dengan 무릎 꿇다 mureup kkurhta atau berlutut). 

Permintaan maaf pada akhirnya juga terkait dengan budaya yang mengikatnya. Bila dalam kehidupan nyata kita dengan mudah menemukan orang Korea yang enggan meminta maaf walau sudah menginjak atau menyenggol orang lain di kereta bawah tanah, kita dapat paham mengapa hal itu dilakukan. Karena maaf sangat terkait dengan ego dan harga diri. Seperti yang disebutkan Lee Giju, 진짜 사과는 아프다 jinjja sagwaneun apheuda yang artinya meminta maaf dengan kesungguhan adalah menyakitkan. 

Akan tetapi, kemampuan untuk membuang rasa sakit sejatinya adalah sebuah kemenangan. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Mohon maaf lahir dan batin.

Surel: eva.latifah@ui.ac.id

IG: evalova33



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID