Taiwan memperkuat pertahanan dengan drone militer – Indo-Pacific Defense Forum
[ad_1]
Maria T. Reyes
Untuk memperkuat pertahanannya dan menjembatani kesenjangan kemampuan dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Taiwan telah memulai program ambisius untuk meningkatkan teknologi dronenya. Berdasarkan inisiatif ini, Taipei memulai strategi multifaset yang mencakup kerja sama dengan mitra asing, memanfaatkan keahlian dalam negeri, dan mendorong perusahaan swasta untuk mengembangkan dan memproduksi drone canggih untuk aplikasi militer.
Jumlah armada drone Taiwan mencapai ratusan drone dan mencakup empat jenis pesawat terbang tak berawak, demikian yang dilaporkan kantor berita Reuters, dibandingkan dengan perkiraan persenjataan Beijing yang berjumlah puluhan ribu drone yang mencakup lebih dari 50 jenis, mulai dari quadcopter kecil yang digunakan oleh prajurit darat hingga pesawat pengawasan jarak jauh bermesin jet.
Pasukan Taiwan melakukan latihan dengan wahana udara tanpa awak pada Januari 2023. VIDEO DIAMBIL DARI: REUTERS
Partai Komunis Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan mengancam akan mencaploknya dengan menggunakan pasukan militer, meskipun pulau yang memiliki pemerintahan mandiri itu tidak pernah menjadi bagian dari RRT.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen meluncurkan rencana strategis pada tahun 2022 untuk meningkatkan kemampuan drone pulau itu secara signifikan. Inisiatif terbaru itu melibatkan kerja sama dengan produsen drone komersial dalam negeri, serta perusahaan penerbangan dan ruang angkasa, dengan dukungan kuat dari militer Taiwan.
Sasarannya adalah memproduksi lebih dari 3.200 drone militer paling lambat pada pertengahan tahun 2024, demikian menurut dokumen pemerintah. Drone itu berkisar dari pesawat terbang mini dengan berat kurang dari 2 kilogram hingga drone pengawasan yang lebih besar dengan jangkauan 150 kilometer. Perusahaan swasta akan diikutsertakan dalam penelitian dan pengembangan.
Di Pameran Teknologi Dirgantara dan Pertahanan Taipei (Taipei Aerospace and Defense Technology Exhibition – TADTE) pada pertengahan September 2023, lusinan perusahaan drone lokal menyoroti keunggulan teknologi mereka. Thunder Tiger Group, misalnya, mempresentasikan konsep helikopter pengawasan berbasis kapal atau darat yang dikemudikan dari jarak jauh dengan jangkauan 400 kilometer. Perusahaan lainnya, Geosat, memamerkan sistem penangkal drone yang dikembangkan bersama dengan Fortunio Jepang.
Ukraina telah berhasil menggunakan drone dalam melawan invasi pasukan Rusia, demikian ungkap David Hambling, penulis “Swarm Troopers: How Small Drones Will Conquer the World (Pasukan Kawanan: Bagaimana Drone Kecil Akan Menaklukkan Dunia),” kepada FORUM. “Ini juga bisa menjadi langkah signifikan dalam membangun industri drone baik bagi drone militer maupun sipil untuk penggunaan lokal dan ekspor, yang dapat menjadi aset politik utama,” ungkapnya tentang inisiatif Taiwan itu. “Dan, dalam jangka panjang, memiliki industri lokal berarti semua uang yang dibelanjakan untuk drone ini akan tetap berada di dalam negeri dan meningkatkan kondisi perekonomian.”
Selain meningkatkan produksi dalam negeri, Taiwan juga melibatkan mitra asing untuk meningkatkan kemampuan dronenya. Di TADTE, Taiwan mencapai kesepakatan dengan Flyby Technology yang berkantor pusat di Britania Raya untuk mengimpor 160 drone tempur “Jackal” yang dibuat oleh mitra Flyby di Turki, FlyBVLOS Technology.
“Jackal akan memberi Taiwan kemampuan taktis yang sangat berguna — drone berbiaya rendah yang cukup murah untuk dibiarkan hancur dalam misi berisiko tinggi namun mampu menjalankan misi dengan kemampuan serangan yang signifikan,” ungkap David Hambling. “Jackal, yang dipersenjatai dengan Rudal Multiperan Ringan (Lightweight Multirole Missiles – LMM) atau rudal serupa, akan mampu menghancurkan berbagai macam target di medan perang.” Dia menambahkan bahwa drone ini juga dapat digunakan untuk menghancurkan sistem pertahanan udara Tiongkok, membuka jalan bagi serangan terkoordinasi yang dilakukan oleh pesawat terbang berawak dan tidak berawak.
Drone yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal tidak perlu dioperasikan dari pangkalan udara, sehingga memberikan perlindungan yang lebih besar terhadap gelombang serangan awal yang besar kemungkinan terjadi dalam invasi ke pulau itu, demikian ungkap David Hambling.
Pengembangan Jackal yang memiliki kecepatan tertinggi 160 kilometer per jam dan mampu terbang di ketinggian hingga 4.000 meter, dimulai pada awal tahun 2022, demikian menurut FlyBVLOS Technology.
Maria T. Reyes merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Manila, Filipina.
You must be logged in to post a comment Login