Connect with us

Nasional

Unggah Video Tak Senonoh, Kevin Samuel Dikenai Sanksi Kode Etik IDI


Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Pusat Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI) hari Kamis (22/4) menjatuhkan sanksi terhadap Kevin Samuel, dokter muda yang dinilai telah melakukan pelanggaran etika profesi kedokteran kategori sedang, setelah mengunggah video reka adegan persalinan dan vaginal touche di akun TikTok miliknya. Sontak video itu menimbulkan kemarahan banyak orang, terutama kaum perempuan. Mereka menilai dokter yang memiliki sekitar 110 ribu follower di Instagram itu telah melanggar privasi dan melecehkan perempuan.

Ketua IDI Cabang Jakarta Selatan M Yadi Permana mengatakan pihaknya telah melakukan sidang tertutup selama tiga hari sejak Sabtu lalu (17/4), dilanjutkan dengan penyelidikan dan pemanggilan Kevin Samuel.

“Maka IDI Cabang Jakarta Selatan telah memberikan sanksi kepada yang bersangkutan sesuai dengan kategori pelanggaran sanksi kategori satu dan kategori dua, yang terukur selama enam bulan,” kata Yadi, Kamis (22/4).

Ditambahkan, Kevin Samuel dinilai telah melakukan pelanggaran etika profesi kedokteran, kategori sedang.

“Dalam hal ini Kevin saat persidangan telah mengakui perbuatan tersebut dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan yang sejenis, serta ke depannya akan berhati-hati,” ungkap Yadi.

Kevin Samuel dikenai sanksi kategori satu, antara lain membuat refleksi diri secara tertulis, mengikuti workshop etika yang ditentukan MKEK, dan juga mengikuti modul etik yang sedang berjalan di Fakultas Kedokteran yang ditunjuk oleh MKEK. Ia juga diharuskan mengikuti program magang bersama panutan selama tiga bulan dan kerja sosial pengabdian profesi di institusi kesehatan yang ditunjuk MKEK tidak lebih dari tiga bulan.

Kevin Samuel, dokter muda yang terkena sanksi IDI (courtesy: Instagram).

Kevin Samuel, dokter muda yang terkena sanksi IDI (courtesy: Instagram).

Sedangkan sanksi kategori dua yang juga dijatuhkan terhadapnya adalah rekomendasi pemberhentian jabatan tertentu, pemberhentian di jabatan, organisasi, dan pelarangan menjabat di IDI untuk satu periode kepengurusan. Lalu, kerja sosial pengabdian yang ditunjuk MKEK dalam kurun waktu 6-12 bulan, dan mengikuti program magang bersama panutan selama 6 sampai 12 bulan.

Diharap Kepercayaan Masyarakat pada Tenaga Medis Tak Surut

Menurut Direktur Eksekutif Jaringan Kesehatan Masyarakat (JKM) Indonesia, Dr. dr. Delyuzar M.Ked (PA),Sp,PA (K), video Kevin yang dinilai melecehkan kaum perempuan diharapkan tidak akan menurunkan kepercayaan masyarakat pada tenaga medis.

“Mudah-mudahan tidak, karena ini perbuatan iseng yang akhirnya bisa jadi dia itu tidak terlalu paham tapi sebenarnya kami anggap sudah pelanggaran sedang. Jadi selama ini para pasien memiliki hubungan yang cukup baik dengan dokter dan dihadapi dengan profesional, sehingga kalau ada terjadi seperti itu saya pikir hanya oknum,” katanya kepada VOA.

Masyarakat pun diminta untuk tidak menggeneralisasi kejadian tersebut karena masih banyak dokter dengan pengabdian yang luar biasa memperlakukan pasiennya dengan baik selama ini.

“Saya tetap yakin bahwa kepercayaan pasien tidak akan menurun karena itu, kecuali ada tindakan yang langsung kepada pasien. Tapi itu saja memang sudah pelecehan, mudah-mudahan perilaku dokter yang tidak profesional seperti ini hanya oknum,” tandas Delyuzar.

Video 15 Detik Menuai Kecaman Luas

Sebelumnya, pada 17 April 2021, Kevin Samuel telah mengunggah konten video TikTok melalui akunnya yakni @dr.kevinsamuelmpg berdurasi 15 detik, yang mengilustrasikan “pemeriksaan dalam” pada seorang pasien perempuan menjelang melahirkan. Saat ini akun TikTok tersebut telah ditutup, namun video yang dimaksud telah tersebar di berbagai platform media sosial.

Unggahan itu berpotensi menimbulkan persepsi bagi sebagian orang karena menunjukkan reka adegan bernuansa di luar kepatutan ketika seorang dokter memeriksa pasiennya. Video itu dinilai telah merendahkan martabat perempuan sehingga menimbulkan protes dari masyarakat terutama kaum hawa.

Setelah mendapat tamparan keras, di hari yang sama Kevin mengunggah permintaan maaf secara virtual.

Dokter Tanpa Stigma: Video Kevin Samuel Hancurkan Citra Tenaga Medis

Penggagas Gerakan Dokter Tanpa Stigma, Sandra Suryadana mengatakan ia termasuk diantara mereka yang terpukul dengan perbuatan Kevin Samuel.

“Benar-benar sangat meresahkan dan sebenarnya cukup membuat kami sangat terpukul. Kami meyakini sebagian besar dari kami adalah dokter yang baik. Adanya konten yang tidak bertanggung jawab ini sangat bisa memukul mundur semua upaya yang sudah kami lakukan selama ini untuk meningkatkan kesehatan masyarakat,” katanya kepada VOA, Kamis (22/4).

Menurut Sandra, video itu juga membuat citra baik tenaga medis yang selama ini telah susah payah dibangun bisa menjadi hancur. Dia pun tak menampik selama ini ada sekat antara tenaga medis dengan masyarakat. Namun, dengan adanya video itu dinilai bisa memperburuk stigma tenaga medis di kalangan masyarakat luas.

“Masyarakat kembali meragukan tenaga medis, dan jauh sebelum pandemi sebenarnya kami sudah bisa merasakan adanya jurang antara tenaga medis dengan masyarakat. Ada tembok besar antara kami sebagai tenaga medis dengan masyarakat. Tembok stigma tenaga medis ke pasien maupun sebaliknya,” ungkapnya.

Atas blunder yang dilakukan Kevin Samuel itu, para tenaga medis diharapkan untuk selalu menjunjung tinggi sumpah profesi dan kode etik kedokteran ketika bekerja maupun melakukan kegiatan sehari-hari.

“Kami butuh konten-konten damai yang disampaikan dengan bijak sesuai kapasitas. Bukan konten yang provokatif dan memperkeruh suasana. Mudah-mudahan masyarakat bisa menilai bahwa kejadian ini adalah anomali. Masih banyak sekali dokter (dengan) niat baik, dan benar-benar tulus untuk membantu serta melayani masyarakat,” ucap Sandra. [aa/em]



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *