5 Tips Jitu Menangkal Hoaks dan Infodemi ala Akademisi : e-Kompas.ID Edukasi - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

5 Tips Jitu Menangkal Hoaks dan Infodemi ala Akademisi : e-Kompas.ID Edukasi



JAKARTA– Berita hoaks dan Infodemi merupakan dua penyakit berbahaya yang membanjiri ruang media digital selama masa pandemi Covid-19.

Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Fasya mengatakan, terkait Informasi mengenai virus dan kesehatan yang menyebabkan terjadinya infodemi, yakni bersebarnya informasi-informasi tidak menyehatkan dan menjadi penyakit yang menyebar secara global.

(Baca juga: Menkominfo Sebut Jurnalis Berperan Penting Lawan Hoaks)

“Di dunia sekarang ada banyak teks masuk grup WhatsApp. Yang sebagian besar adalah junk news atau sampah-sampah berita atau fake news. Bahkan kelompok terdidik pun sudah tidak bisa mengenali mana yang disebut sebagai fakta, mana yang opini,”jelas Kemal demikian dikutip laman resmi MUI, Rabu,(06/10/2021).

Kemal melanjutkan, masifnya infodemi di tengah masyarakat berhubungan dengan lonjakan pengguna internet di Indonesia selama pandemi. Tahun ini terdapat sebanyak 202 juta pengguna dibanding tahun 2019 yang mencapai 196 juta pengguna.

(Baca juga: Sebar Hoaks Penculikan Anak, Pria Gondrong Terciduk Tim Virtual Police Polda Jateng)

Dari data itu, lanjutnya, sebanyak 75% penduduk Indonesia selama pandemi menghabiskan sebanyak delapan jam per hari untuk berinternet dan menjadi masalah karena tidak diimbangi dengan kematangan literasi digital.

“Problem penggunaan internet (yakni) situasi yang tidak seimbang atau ekuivalen. Preferensi perilaku pengguna internet sebagian besar tidak menumbuhkan kematangan dalam literasi digital,”jelasnya.

“Yang mana dengan tingginya tingkat penggunaan internet penduduk Indonesia ditambah dengan para pengguna yang sering mengisi rubrik di berbagai media nasional. Sedikit demi sedikit dapat terpapar hoaks,”sambungnya.

Hal ini dikarenakan preferensi perilaku pengguna internet yang tidak mengkonsumsi informasi dari sumber-sumber yang akurat sehingga masyarakat menjadi minim akan literasi digital.

Oleh karena itu, untuk melawan masifnya persebaran hoaks dan infodemi, menurutnya perlu memperhatikan lima prinsip berikut: Pertama, bersikap rasional, yakni jangan emosional dalam membaca dan mencerna informasi.

Kedua, detail, yakni periksa struktur kalimat, fakta, data yang digunakan apakah sudah benar atau justru terdapat misinformasi dan disinformasi.

Ketiga, bersikap objektif, jangan sampai karena kesamaan atau perbedaan pandangan membuat kita menjadi subjektif dan mempercayai informasi begitu saja.

Keempat, mempertimbangkan konsekuensi dan risiko, harus perhatikan bahwa read before sharing, caring before sharing.

“Perhatikan peduli sebelum kalian menyebarkan sesuatu. Karena ketika kita sebar (informasi) itu, dan yang kita sebar adalah ibadah namimah (mengadu domba), yang dalam bahasa sekarang disebur hoaks iu sama aja dosanya seperti memakan bangkai saudara kita sendiri. (Kesadaran) itu yang harus dibangun,”terangnya.

Kelima, interdisciplinary, belajar banyak hal-hal yang lain di luar spesial disiplin ilmu kita agar tidak tertipu dan terhindar dari hoaks.

“Problem kita (hoaks) terdapat pada alqur’an yang berbunyi: إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا , bila ada informasi yang masih diragukan maka perlu bagi kita atau kamu sekalian bertabayyun, cross-check, check and recheck. Tidak semua (informasi) ditelan bulat-bulat,”pungkasnya.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *