Kuliah Umum di Universitas Jember, Atdikbud Canberra Tegaskan Pentingnya Kebaruan dalam Riset : e-Kompas.ID Edukasi - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Kuliah Umum di Universitas Jember, Atdikbud Canberra Tegaskan Pentingnya Kebaruan dalam Riset : e-Kompas.ID Edukasi


JAKARTA – Salah satu syarat untuk bisa lulus dari program master dan doktoral di Indonesia, seorang mahasiswa wajib memiliki karya yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah, baik jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi.

Untuk bisa publikasi di jurnal yang berkualitas, penelitian mahasiswa harus memiliki kebaruan dan kebermanfaatan yang besar. Tanpa adanya kontribusi dalam bentuk kebaruan dan kebermanfaan, akan sulit bagi mahasiswa maupun peneliti untuk bisa publikasi di jurnal bereputasi.

Hal itu diungkapkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, Mukhamad Najib, dalam acara kuliah umum “Peningkatan Kualitas Tugas Akhir Mahasiswa Program Pascasarjana” yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Jember, Kamis (4/11/2021). Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid dengan daring dan luring ini ditujukan bagi mahasiswa pascasarjana, baik program S2 maupun S3 agar dapat menyelesaikan tesis dan disertasinya secara tepat waktu dan berkualitas.

Selain dihadiri mahasiswa pascasarjana, acara ini dihadiri dosen, guru besar, jajaran pimpinan di lingkungan FISIP, serta para pengelola program studi di lingkungan Universitas Jember. Menurut Ketua Panitia, Wheny Kristianto, acara ini dilaksanakan selama tiga hari, dengan target luaran berupa terkumpulnya 32 peta riset dan potensi kebaruan yang ditulis oleh mahasiswa pada akhir acara.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra Mukhamad Najib. (Ist)

“Acara ini memiliki dua tujuan utama, yaitu bagi mahasiswa adalah agar dapat memahami bagaimana melakukan pemetaan riset dan memahami ragam kebaruan dalam penyusunan disertasi maupun tesis, sementara bagi dosen diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuannya dalam melakukan riset yang berkualitas,” kata Wheny.

Menurutnya, mahasiswa sering kesulitan dalam melakukan pemetaan riset dan menemukan kebaruan yang menarik dalam penelitian disertasi. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana melakukan pemetaan dan menemukan kebaruan yang masih lemah dalam penelitian kualitatif dan kuantitatif untuk riset disertasi. Padahal, dalam realitasnya banyak topik riset yang sepertinya sederhana, tetapi mempunyai potensi kebaruan yang besar untuk diangkat di dalam penelitian.

Dalam sambutan pembukaannya, dekan FISIP, Joko Purnomo mengatakan, acara ini sangat penting sebagai bagian dari pengayaan dan pengembangan keilmuan.

Baca Juga : Guru Bantu dari UNP Tingkatkan Percaya Diri Siswa Australia Bicara Bahasa Indonesia

“Narasumber dalam acara ini juga tidak diragukan lagi. Saya sudah lihat rekam jejaknya dibidang riset dan publikasi. Oleh karena itu, saya berharap semua mahasiswa bisa mengikuti kegiatan ini secara penuh agar tidak ada yang hilang dari penjelasan yang dipaparkan,” pinta Joko.

Dekan FISIP ini juga menambahkan bahwa manfaat acara ini sesungguhnya tidak hanya untuk mahasiswa, tapi juga bagi fasilitator dan dosen, oleh karenanya semua boleh bergabung dalam acara ini.

Dalam materinya berjudul “Memetakan Riset Menemukan Novelty”, Najib yang menjadi narasumber utama hari pertama ini menguraikan penelitian harus berangkat dari identifikasi masalah yang jelas. Itu karena memang sejatinya penelitian ilmiah merupakan aplikasi secara formal dan sistematis dari metode ilmiah yang ditujukan untuk mempelajari dan menjawab permasalahan.

Najib menambahkan, jika kita bisa memulai dari identifikasi masalah penelitian yang solid, maka potensi kebaruan dan kebermanfaatan akan bisa dikembangkan dengan baik.

“Novelty atau kebaruan dalam suatu penelitian bisa dilihat dari apakah penelitian kita bisa mengisi research gap yang ada? Lalu dari situ perlu dievaluasi sejauhmana hasil penelitian nantinya bisa memberikan kontribusi baik secara konseptual maupun praktikal dalam bidang yang diteliti,” kata Najib, dalam siaran pers yang diterima.

Sudah jadi rahasia umum kalau selama ini hasil penelitian hanya berhenti di ruang perpustakaan tanpa memberikan manfaat yang lebih besar. Menurut Najib yang juga dosen IPB ini, sangat sayang kalau penelitian hanya sekedar untuk penelitian.

“Seorang peneliti telah mengeluarkan waktu, tenaga dan biaya yang mungkin tidak sedikit dalam melakukan penelitian, sehingga sedapat mungkin penelitian yang dilakukan haruslah mampu menjawab permasalah dengan baik sehingga hasil penelitian memiliki kebermanfaatan yang besar,” kata Najib.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini, selain mengikuti materi dari narasumber, mahasiswa juga akan memperoleh pendampingan dari fasilitator yang ditunjuk program studi. Dengan adanya fasilitator pendamping, diharapkan mahasiswa bisa segera menyusun proposal penelitian dengan baik sehingga bisa segera memulai penelitian.

Sebagai upaya untuk memperlancar proses pendampingan mahasiswa diminta menyerahkan draf model penelitian yang berisi potensi kebaruan penelitian disertasi dalam waktu 1 pekan sebelum kegiatan dimulai. Selanjutnya draf tersebut diserahkan kepada fasilitator untuk dipelajari dan diberi saran atau masukan. Mahasiswa mendapatkan pendampingan dari para fasilitator pada hari ketiga kegiatan untuk mengevaluasi perbaikan yang sudah dilakukan dan menyerahkan hasil revisi draf akhir kepada fasilitator pada hari terakhir.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *