Provinsi Papua tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga merupakan rumah bagi beragam budaya dan unik yang tak terhitung jumlahnya.
Di antara simbol budaya khas Papua adalah alat musik tradisional yang disebut Tifa, yang namanya telah menjadi identik dengan provinsi.
Papua, yang telah mengalami banyak pembangunan infrastruktur selama bertahun-tahun, telah merangkul modernisasi dalam beberapa aspek kehidupan. Namun, warisan Tifa tetap dilindungi hingga hari ini.
Dalam istilah yang paling sederhana, Tifa adalah alat musik perkusi. Meskipun menghasilkan musik saat dipukul, seperti beberapa instrumen tradisional Indonesia, yang membuat Tifa menonjol adalah hubungannya yang erat dengan cerita rakyat dan tradisi lisan.
Suku yang berbeda telah menyampaikan mitos dan cerita mereka sendiri tentang asal-usul Tifa. Menurut salah satu versi yang lazim di Biak, alat musik tersebut pertama kali dibuat oleh seorang anak yatim piatu dari desa tersebut. Seperti ceritanya, anak laki-laki itu diundang ke sebuah pesta, yang setiap penduduk desa diminta untuk hadir.
Seperti kebiasaan saat itu, semua penduduk desa yang menghadiri pesta harus membawa sesuatu dari rumah. Hal ini membuat sedih anak laki-laki itu, yang tidak membawa apa-apa.
Saat dia berjalan di hutan memikirkan hal ini, dia bertemu dengan seekor kadal, yang sedang memukul perutnya dan menghasilkan suara yang sangat mirip dengan alat musik perkusi. Ketika kadal itu bertanya mengapa dia tampak tidak bahagia, bocah itu memberi tahu dia tentang kesulitannya.
Kadal itu menyuruh anak laki-laki itu untuk mengambil kulitnya, membakarnya di atas tongkat, lalu memotongnya dengan pola melingkar, dan memasangnya di sebatang kayu. Dia memberi tahu bocah itu bahwa instrumen yang dibuat demikian akan menghasilkan suara yang unik dan khas ketika dipukul berulang kali.
Anak laki-laki itu mengikuti nasihatnya dan memainkan alat musik di pesta itu. Ketika salah satu Kepala Suku bertanya kepadanya apa yang dia mainkan, anak laki-laki itu menjawab bahwa itu adalah “sreb”.
Sejak hari itu, masyarakat Biak menyebut Tifa sebagai sreb. Cerita tersebut menggambarkan bagaimana Tifa mengakar kuat dalam sejarah masyarakat Papua.
Di era modern, cerita ini mungkin terdengar terlalu seperti mitos, tetapi kepercayaan dan apresiasi terhadap cerita itulah yang mendorong orang Papua untuk melestarikan Tifa untuk waktu yang sangat lama.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Jayapura, Chris K. Tokoro, Tifa bukanlah alat musik yang bisa dimainkan oleh sembarang orang. Ini melayani tujuan tertentu, katanya.
Tifa biasanya dimainkan saat ritual adat, penyambutan tamu, dan bahkan sebagai seruan perang, jelasnya.
Secara tradisional, Tifa lebih banyak dimainkan oleh laki-laki, sesuai dengan ajaran tradisional tentang peran gender di Papua, yang mengharuskan laki-laki untuk memimpin perempuan dalam segala aspek kehidupan. Kepatuhan terhadap peran gender dipandang sebagai cara untuk menghormati dan menghormati nilai-nilai leluhur oleh orang Papua.
Tapi, di daerah-daerah tertentu, seperti Kepulauan Raja Ampat, banyak perempuan terlihat memainkan Tifa.
Di Papua, peristiwa penting lainnya ketika Tifa dimainkan adalah Sing-sing, ketika berbagai suku berkumpul untuk menampilkan budaya masing-masing.
Silaturahmi ini diadakan dalam rangka bertukar pengetahuan tentang tradisi mereka sehingga mereka dapat saling belajar. Ini menunjukkan kekuatan Tifa untuk menyatukan orang Papua.
Yang lebih membedakan Tifa dari instrumen perkusi yang ditemukan di daerah lain adalah pola yang ada di sampingnya. Pola atau simbol ini memiliki makna etnis dan spiritual tertentu dan mewakili cerita tentang kehidupan alam di Papua, dan juga rasa syukur yang dirasakan pembuat Tifa atas berkah yang telah mereka terima dalam hidup.
Tifa sangat umum digunakan oleh berbagai suku di Papua — Mali Anim, Biak, Sentani, Teminabuan, dan masih banyak lagi. Setiap suku memiliki jenis dan nama Tifa sendiri.
Tifa disebut “eme” oleh orang Asmat, “Kalin Kla” di Teminabuan, “Wachu” di Sentani, “Sirep” atau “Sandio” di Biak, dan “Kandara” oleh orang Mali Anim.
Orang-orang Papua tidak hanya melestarikan Tifa sebagai simbol budaya mereka, tetapi juga mengembangkan cara untuk membuatnya menjadi barang yang menguntungkan secara finansial untuk dijual.
Dengan demikian Tifa memainkan peran penting dalam perekonomian Papua. Banyak orang Papua memproduksi Tifa dalam jumlah besar untuk dijual. Instrumen ini dijual dengan kisaran harga yang berbeda, tergantung pada kerumitan pola, bahan yang digunakan, dan durasi suara yang dihasilkan.
Nilai ekonomi ini juga diharapkan dapat menjamin umur panjang Tifa di Papua. Oleh karena itu, para tetua Papua meminta para pemuda untuk tetap setia pada budaya mereka dalam upaya melindungi warisan Tifa dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang.
Pemerintah Provinsi Papua telah mengeluarkan peraturan yang secara tegas menyatakan bahwa semua hak kekayaan intelektual yang dimiliki oleh masyarakat adat Papua dilindungi oleh undang-undang.
Peraturan tersebut diharapkan dapat menjadi landasan hukum yang kokoh untuk melestarikan Tifa di masa mendatang.
Berita Terkait: 1000 tifa echo beats untuk memeriahkan Festival Danau Sentani
You must be logged in to post a comment Login