Masuk Daftar Forbes 30 Under 30 Asia, Alumni ITB Ini Bagikan Rahasia Suksesnya : e-Kompas.ID Edukasi - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Masuk Daftar Forbes 30 Under 30 Asia, Alumni ITB Ini Bagikan Rahasia Suksesnya : e-Kompas.ID Edukasi



JAKARTA- Alumni mahasiswa Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) 2009 Bernadus Setya Ananda, menyatakan perjalanan menuju sukses itu tidak mudah.

(Baca juga: Inovatif! Institut Teknologi PLN Buat Laboratorium Gasifikasi Massa untuk Kurangi Sampah)

CEO Sucor Sekuritas ini tercatat masuk dalam daftar “Forbes 30 Under 30 Indonesia” dan “Forbes 30 Under 30 Asia”.

Bernardus mengatakan, untuk menjadi seorang high achiever, mereka harus mulai membangun winning mentality. Dimana segala hal yang ingin dicapai hanya bisa didapatkan melalui perjuangan.

(Baca juga: Viral! Mahasiswi Cantik Ini Curhat soal Tekanan Sosial Kuliah di UI)

“Banyak harga yang harus dibayar untuk mendapatkan prestasi dan dampak signifikan,” katanya melansir laman resmi ITB, Sabtu (30/10/2021).

Selain itu, dia memberi nasehat bahwa soft skills di luar kelas penting. Namun technical skills yang diajarkan di kuliah berguna juga.

Keraguan saat terjun ke dunia kerja adalah masalah yang sering dihadapi pada anak-anak muda. Ketika para mahasiswa lulus perkuliahan, mereka kewalahan dengan semua pilihan karier yang ada.

Bernadus sendiri pernah mengalami pergumulan ini. Dia bingung untuk bekerja di pabrik perminyakan dan gas, menjadi konsultan bisnis di bank atau mengikuti cita-cita masa kecil untuk menjadi penyanyi.

“Pada akhirnya, pekerjaan pertama kalian adalah stepping stone kalian untuk berkarir lebih baik di zona professional. Kadang-kadang, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik untuk kita. Karena itu, kita perlu menganalisa diri sendiri agar dapat menentukan pilihan kerja yang tepat bagi kita,” ujarnya.

Analisa tersebut dilakukan lewat SHAPE (Spiritual gift, Heart, Ability, Personality dan Experience). Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, para milenial dapat mengetahui pekerjaan yang membuat mereka senang serta membawa banyak dampak kepada lingkungan sekitar.

Kemampuan, kepribadian dan pengalaman masing-masing juga menjadi faktor penting dalam pertimbangan mewujudkan mimpi. Kepemimpinan di pekerjaan penting, dan gaya kepemimpinan orang berbeda.

Untuk memimpin dengan baik, mereka harus menjadi follower yang baik dulu untuk mengetahui kondisi lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti konsep FAITH (Faithful, Available, Involved, Teachable, dan Hungry).

Selanjutnya, menjadi pemimpin berarti harus bisa menghormati, melayani dan menginspirasi orang sekitar selagi fokus dengan tujuan dan mendengar berbagai masukan tanpa takut. Terakhir, pekerjaan dapat dilihat bukan untuk diri sendiri, tetapi sebagai ibadah dan memberi dampak untuk orang sekitar.

Aspek selanjutnya yang menentukan perjalanan karier adalah rencana dan tujuan hidup diri sendiri. Bernadus menceritakan, pengalaman kerja dia di ibukota untuk pertama kalinya memberi banyak kejutan baginya. Namun dari situ dia belajar untuk memberikan yang terbaik serta berkontribusi semaksimal mungkin kepada masyarakat.

Selama bekerja di Jakarta dia juga menemui banyak tantangan finansial. Mulai dari peer pressure hingga biaya perjalanan. Karena itu, mindset gaya hidup yang benar harus ditanamkan sejak masa kuliah supaya tujuan hidup dan financial freedom dapat diperoleh.

Financial freedom pun adalah proses yang mencakupi kegiatan menghasilkan, menabungkan, menginvestasikan dan melindungi pendapatan masing-masing.

Lewat penghasilan sekarang, katanya, orang-orang dapat meningkatkan earning power mereka. “Kuncinya adalah bekerja keras. Dengan memaksimalkan talenta kita, kita dapat hidup dengan benar,” terangnya.

Menyisihkan sebagian dari pemasukan sebagai dana darurat juga membantu untuk menghadapi skenario buruk. Dari dana darurat ini dapat dilakukan investasi dan perlindungan untuk mengakselerasi aset seperti saham dan asuransi.

Di mata milenial, perubahan dunia serba cepat dan digital. Penerapan growth mindset sangat berguna untuk melihat tren dunia ke depannya. Dalam era kolaborasi kini, pola pikir ini akan mendorong mereka untuk belajar dan tetap relevan di lingkungan sekitar.

“Yang paling penting adalah kita terus update pengetahuan kita, kemampuan kita dan tetap rendah hati di era kolaborasi ini. Kita tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Maka dari itu, kerja sama adalah suatu hal yang penting,” imbuhnya.

Menurutnya, mentalitas sebagai seorang pemimpin maupun profesional dapat tercapai dengan memanfaatkan lingkungan dan kehidupan sekitar sebagai suatu proses utuh untuk mengelola diri sendiri.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *