Connect with us

Nasional

Setop Aliran Masuk Tenaga Kerja Asing dari China

Setop Aliran Masuk Tenaga Kerja Asing dari China




Ilustrasi ziarah kubur. Foto: Istimewa


© Disediakan oleh Kumparan
Ilustrasi ziarah kubur. Foto: Istimewa

Saat lebaran tiba, tradisi yang paling sering kita temui yakni ziarah kubur yang dilakukan oleh masyarakat muslim, terlebih di Indonesia. Biasanya mengunjungi makam dilakukan saat hari besar umat islam seperti Idul Fitri maupun hari besar lainnya dalam rangka mendoakan atau sekedar mengunjungi makam keluarga, sanak saudara maupun kerabat.






© Disediakan oleh Kumparan

Seluruh masyarakat merasa sangat gembira apabila hari tersebut datang, bahkan bagi warga yang berada di perantauan, mereka biasanya mengambil cuti dari pekerjaan atau libur dari studinya hanya semata-mata untuk mudik.

Di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau memiliki hal unik dalam berziarah kubur saat lebaran tiba. Yang biasanya penziarah datang untuk berdoa saja lalu pulang. Nah, berbeda dengan di sana.

Gegap gempita sangat meriah saat ziarah kubur karena diramaikan oleh anak-anak yang ikut mendoakan walau bukan dari keluarga sendiri bahkan tidak dikenal. Itu karena, saat mereka ikut akan diberikan uang lebaran atau makanan dan minuman yang dibagikan sebagai imbalan karena telah ikut berdoa.

Tradisi ini sudah menjadi turun-temurun yang masih ada sampai sekarang. Jika ini tidak ada, seperti ada yang hilang atau berbeda bagi masyarakat di sana.

Salah satu warga Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur, Ayu mengatakan kebiasaan tersebut memang sudah ada terlebih dahulu sebelum ia lahir 40 tahun lalu. Hingga sekarang pun ia turut menerapkannya tradisi tersebut saat ziarah kubur.

Biasanya tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 2 Syawal atau hari ketiga lebaran Idul Fitri setiap tahunnya. Walaupun pandemi, kebiasaan ini tetap dilakukan, namun agak sedikit berbeda karena banyak sanak saudara yang tidak bisa mudik sejak 2 tahun kebelakangan ini.

“Kalau hari pertama hari raya tu ke rumah orang tua dululah. Kumpul sama keluarga. Maaf-maafan dulu. Dah hari kedua atau ketiga barulah ziarah. Nanti cari Pak Lebai yang nak imamkan doa. Sama siapkan duit lebaranlah untuk anak-anak yang ikut tu. Kalau tak jajan atau ale-ale,” ujar Ayu.

Sejak pagi penziarah akan menyiapkan peralatan berdoa seperti kendi atau botol untuk diisi air, yang nantinya digunakan untuk menyiram kuburan, ada juga yang membawa bunga untuk ditabur dan tikar untuk alas duduk.

Ának-anak sudah mulai rapi dengan baju lebaran andalan mereka, menunggu tetangga atau orang lain yang akan pergi ke makam.

Saat Ayu kecil, yang ia dapatkan saat ikut ziarah bukan berupa uang. Tapi, berupa makanan seperti permen, mie instan atau es lilin. Karena perkembangan zaman, di gantilah dengan uang lebaran. Namun, ada juga yang masih menjaga tradisi yakni memberikan minuman ringan.

“Kalau kasi minuman atau makanan tu kasian anak-anak berat bawanya. Kalau dalam sehari tu ada ikut sepuluh atau lima belas orang yang ziarah. Banyak juga tu yang mereka dapat. Sampai bawa kantong besar. Kuburan di sini kan di atas-atas bukit. Naik nanjaklah. Makanya banyak yang pakai duit biar tak keberatan.” jelas Ayu.

Ayu menambahkan, hal tersebut juga untuk mengajarkan dan menanamkan kepada anak-anak bahwa tidak ada yang perlu ditakuti saat berziarah ke makam.

Nah, begitulah salah satu tradisi yang ada di salah satu daerah Kabupaten Kepulauan Anambas. Bagaimana dengan daerahmu?





Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar Covid-19

Teknologi

Advertisement