Transformasi mengejutkan kota tepi laut Kamboja diliputi oleh dampak yang sangat buruk - e-Kompas.ID
Connect with us

Nasional

Transformasi mengejutkan kota tepi laut Kamboja diliputi oleh dampak yang sangat buruk

[ad_1]

Staf FORUM

Belum lama ini, Sihanoukville merupakan tempat peristirahatan santai di Teluk Thailand di Kamboja, yang sebagian besar populer di kalangan pengunjung pantai dan turis beransel. Sekarang, tidak seperti itu lagi. Uang Tiongkok telah mengubah kota itu secara dramatis dalam waktu kurang dari satu dekade. Sekarang kota itu merupakan surga bagi para penjudi, penjahat kerah putih, dan penipu global.

Suasana pantai yang indah memberikan jalan kepada apa yang oleh sebagian orang digambarkan sebagai Makau atau bahkan Las Vegas tepi laut, yang ramai dengan kasino-kasino di gedung tingkat tinggi, kehidupan malam yang dipenuhi cahaya lampu neon, dan berbagai fitur daerah perkotaan transnasional serba cepat yang kondisinya semakin memburuk: pencucian uang, penjualan narkoba ilegal, transaksi senjata, serta perdagangan manusia dan satwa liar.

Para pengamat mengatakan perubahan besar-besaran itu disebabkan oleh masuknya investasi dan turis Tiongkok yang mencapai puncaknya pada pertengahan tahun 2010-an dan dapat berlanjut saat pandemi COVID-19 mulai mereda.

Reputasi komunitas ini yang dikenal luas akan tindakan negatifnya diperburuk oleh pelabuhan laut dalamnya, satu-satunya di Kamboja. Ada juga bandara internasional di dekatnya. Berbagai sindikat kejahatan menggunakan pelabuhan laut dan bandara internasional ini untuk mengirim dan menerima kargo ilegal.

Sihanoukville, sama seperti sebagian besar wilayah di Kamboja, terjalin erat dalam skema Satu Sabuk, Satu Jalan (One Belt, One Road) Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Ada jalan raya baru yang menghubungkan Phnom Penh, ibu kota Kamboja, dengan Sihanoukville. RRT telah mendanai pembangunan jembatan, bendungan pembangkit listrik tenaga air, stadion, dan lebih banyak jalan lainnya, demikian yang dilaporkan China Labor Watch pada Agustus 2022. (Foto: Bangunan bertingkat tinggi, banyak yang belum selesai dibangun, mengaburkan pemandangan pantai Sihanoukville di Teluk Thailand.)

Banyak warga pada awalnya menyambut baik investasi Tiongkok. Kasino membuka banyak lapangan pekerjaan. Tapi kasino itu juga membawa kejahatan terorganisir, dan permintaan akan real estat mendorong terjadinya inflasi. Kemudian, pada tahun 2019, Perdana Menteri Hun Sen melarang perjudian online di Kamboja dan pandemi mengakibatkan terusirnya banyak turis yang tersisa. Kerumunan massa yang menghilang, yang sebagian besar terdiri dari warga negara Tiongkok, menyisakan kasino terang benderang yang terlihat kontras dengan bangunan yang belum selesai dibangun.

“Sekarang ada begitu banyak sampah, dan kondisi jalannya buruk,” ungkap Sampoah, warga yang sudah lama tinggal di sana, kepada majalah The Atlantic. “Sebelumnya, Sihanoukville merupakan kota yang sangat sedap dipandang mata — sekarang kondisinya sangat buruk.”

Paula Bronstein/Getty Images 

Banyak warga Kamboja mengatakan Sihanoukville dirusak oleh semakin banyaknya kasino yang beroperasi di sana, demikian menurut The Diplomat, sebuah majalah berita online. “Kejahatan telah melonjak. Penduduk setempat tidak mampu bertahan hidup di sana karena biaya hidup yang terlalu tinggi. Banyak warga yang tidak akan lagi pergi ke kota itu, yang sebelumnya merupakan lokasi populer untuk liburan akhir pekan. Kasino telah menodai reputasi Kamboja dan reputasi bisnis yang sah,” demikian yang dilaporkan The Diplomat pada akhir Agustus 2022.

Global Initiative, yang menganalisis dan merekomendasikan berbagai cara untuk memerangi kejahatan terorganisir, menyebut Sihanoukville sebagai “pusat aktivitas kriminal multisisi” dalam sebuah laporan pada September 2022.

Sihanoukville memasuki jaringan kriminal internasional sebagai pengekspor kayu yang ditebang secara ilegal, demikian menurut laporan tersebut. Para penjahat memperluas kegiatannya ke dalam berbagai bidang lainnya yang menguntungkan, termasuk pariwisata dan real estat. Mereka mengalihkan kegiatannya untuk menghindari penegakan hukum yang pada umumnya lemah, “menyesuaikan dan merelokasi operasi mereka guna menanggapi perubahan kegiatan dan prioritas penegakan hukum dan peraturan,” demikian menurut Global Initiative.

Banyak pemain sindikat kriminal itu merupakan warga Tiongkok, demikian menurut surat kabar Los Angeles Times. Kegiatan mereka berkisar dari penipuan digital, perjudian online, serta perdagangan narkoba dan satwa liar.

Banyak transaksi melibatkan mata uang kripto, alat pembayaran populer di kalangan operator kejahatan terorganisir, penipu, dan oportunis, demikian yang dilaporkan Global Initiative.

Masuknya kegiatan kriminal di Sihanoukville telah merusak reputasi Kamboja. Dalam penilaian tahun 2021 terhadap korupsi sektor publik di 180 negara dan wilayah, Kamboja menempati peringkat ke-157, demikian menurut Transparency International. Korupsi sektor publik merupakan lahan subur bagi pelanggaran hak asasi manusia, “memicu terjadinya spiral yang ganas dan semakin meningkat.”

Sihanoukville merupakan bagian dari “pola ilegalitas lebih luas [dengan] kejahatan terorganisir Tiongkok yang dominan dan memiliki efek distorsi besar-besaran pada perekonomian lokal,” demikian ungkap seorang pakar politik Kamboja kepada Global Initiative.

Pengaruh Tiongkok yang berkembang dengan pesat telah mengubah Sihanoukville secara fisik maupun ekonomi, demikian yang dilaporkan The Atlantic pada Januari 2020. “Derek dan perancah ada di mana-mana, bukit dan hutan telah dibuldoser, dan sebuah danau yang dulunya penting bagi drainase selama hujan lebat telah ditimbun, sehingga menyebabkan banjir. … Dengan laju pembangunan yang jauh melampaui laju pembangunan fasilitas pengolahan air limbah dan infrastruktur vital lainnya, tumpukan sampah ada di mana-mana, dan air limbah sering kali disalurkan ke tepi pantai kota itu yang panjangnya tiga mil, yang sekarang juga tertutup sampah.” (Foto: Warga Kamboja yang hidup dalam kemiskinan dikelilingi oleh proyek konstruksi yang didanai Tiongkok di Sihanoukville.)

Warga berpenghasilan rendah mengalami pukulan keras ketika investor dan turis Tiongkok meninggalkan kota itu. Kejahatan terorganisir menggantikan kasino dan konstruksi sebagai sumber pendapatan utama, demikian menurut China Labor Watch. Penipuan dan perdagangan manusia menjadi industri terkemuka, dengan korban yang berasal dari banyak negara Asia.

Youk Chhang, seorang warga setempat yang dibesarkan di Phnom Penh dan sudah sering kali berkunjung ke Sihanoukville, mengenang suasana kehidupan pedesaan Teluk Thailand dan pantai tak berujung Sihanoukville yang “menjadi milik warga Kamboja.”

“Sihanoukville yang saya lihat bukan lagi kota yang pernah saya kenal sebelumnya,” ungkapnya kepada The Diplomat pada November 2021, sebulan setelah mengunjungi kota itu. “Di sini ada jalan-jalan yang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi, banyak gedung yang digunakan sebagai hotel dan kasino serta gedung lainnya kosong atau sedang dibangun. … Ketika saya tiba, saya merasa begitu hampa. Saya tidak bisa bernapas. Sirna sudah apa yang saya ketahui tentang Sihanoukville.”

 

FOTO DIAMBIL DARI: GETTY IMAGES



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Copyright © 2025 e-Kompas.ID