Bukan Sekadar Tradisi, Kue Lebaran Jadi Obat Rindu Warga Indonesia di AS - e-Kompas.ID
Connect with us

Nasional

Bukan Sekadar Tradisi, Kue Lebaran Jadi Obat Rindu Warga Indonesia di AS


Sudah setahun belakangan ini warga Indonesia, Amanda Chitarra di Pasadena, California, menekuni usaha kue bolu dengan nama “Gulung.” Khusus untuk lebaran tahun ini Amanda menyediakan paket khusus hantaran lebaran.

Kali ini ia berkolaborasi dengan produk minuman Good Vibes Society, milik pengusaha asal Indonesia, Agung Wimboprasetyo, di Los Angeles. Setiap paket dihargai sekitar 37 dolar atau setara dengan 530 ribu rupiah.

Kolaborasi Gulung dan Good Vibes Society untuk lebaran tahun ini (dok: Amanda Chitarra)

Kolaborasi Gulung dan Good Vibes Society untuk lebaran tahun ini (dok: Amanda Chitarra)

“Jadi di dalam box itu ada dua minuman Good Vibes Society dan aku bikin khusus gulung versi variety box. Jadi 1 box ada 3 rasa tapi ukuran mini roll,” jelas Amanda Chitarra kepada VOA.

‘Gulung’ menawarkan beragam cita rasa yang unik, seperti stroberi, ube, dan klepon, yang dilengkapi dengan isian renyah, seperti parutan kelapa dan kacang almond.

Yang paling populer di kalangan pelanggannya, yang umumnya warga Amerika, adalah rasa ube. Menurutnya rasa ube tidak terlalu asing di lidah pelanggan lokal.

“Untuk orang Indonesia yang kangen makanan Indo tuh pasti paling suka ya klepon, karena rasanya paling ngingetin sama rumah,” kata Amanda.

Amanda Chitarra di stan Gulung saat berjualan di acara pop-up di California (dok: Amanda Chitarra)

Amanda Chitarra di stan Gulung saat berjualan di acara pop-up di California (dok: Amanda Chitarra)

Setiap kreasi bolu gulung dikerjakan dengan sepenuh hati oleh Amanda, yang menganggap bahwa bolu ini bukan hanya sekadar makanan, namun merupakan “food art” atau karya seni yang dibuat dengan makanan.

Tak heran jika proses pembuatannya bisa memakan waktu hingga 3 jam, mulai dari proses penggambaran motif batiknya yang menggunakan adonan kue, pemilihan warna, pemanggangan, hingga selesai.

Amanda mengaku tertarik pada batik mengingat makna yang tersirat dalam setiap motifnya. Hingga kini, Amanda sudah menampilkan motif batik Jawa seperti mega mendung, kawung, dan buketan. Ia juga pernah menampilkan motif kain Toraja. Semua arti dari motifnya juga ia jelaskan dalam menu Gulung ketika berjualan di berbagai acara pop-up.

“Batik itu kan hebatnya bukan karena cuman motifnya cantik, tapi masing-masing ada artinya ya ada kegunaannya, jadi aku tertarik juga dengan pemilihan, aku bacain, aku research,” tambahnya.

Nastar Laris Manis di AS

Sejak empat tahun lalu, diaspora asal Blitar, Jani Sammartano di Whittier, California, berjualan kue kering khas Indonesia. Kue-kue kering Jani selalu menghiasi berbagai hari besar, termasuk lebaran.

Jani Sammartano di Whittier California menjual beragam kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju (dok: Jani Sammartano)

Jani Sammartano di Whittier California menjual beragam kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju (dok: Jani Sammartano)

Tidak hanya berjualan di supermarket Indonesia, online, dan berbagai bazar makanan di California, Jani juga menerima pesanan hingga ke berbagai negara bagian.

“Kalau aku cuma 6 macam kue kering ya, nastar, kastengel, sagu keju, putri salju, lidah kucing, sama domino cookie yang kotak-kotak itu,” ujar Jani Sammartano kepada VOA belum lama ini.

Diaspora Indonesia, Jani Sammartano di Whittier, California (dok: Jani Sammartano)

Diaspora Indonesia, Jani Sammartano di Whittier, California (dok: Jani Sammartano)

Kue-kue kering Jani dijual dengan harga 12 dolar atau setara dengan 173 ribu rupiah per kotak dengan berat sekitar 200-240 gram. Menjelang Ramadan, ia menerima peningkatan pesanan yang mencapai total sekitar 150 kotak kue kering. Yang paling populer adalah nastar. Proses pembuatannya pun cukup istimewa.

“Karena nastar tuh aku parut pakai tangan nanasnya. Aku enggak (pakai) blender. Aku maunya (berkualitas) ya. Aku makan sendiri, jadi aku pikir ya mendingan lebih enak. Jadi orang kalau sekali order ya, nanti mesti order lagi,” jelasnya.

Walau tidak merayakan lebaran, diaspora Indonesia, Christina Miller di California pun ikut memborong kue kering buatan Jani.

“Iya jelaslah obat kangen. Mau buat sendiri aja ogah-ogahan kok. Enak-enak sih semuanya aku cocok banget,” kata Christina Miller kepada VOA.

Mengingat harga bahan baku tengah naik, Jani bersikeras untuk tidak menaikkan harga kue-kuenya yang memang tergolong lebih murah dibandingkan dengan kue-kue lain. Namun, ia selalu mempertahankan kualitas kuenya.

“Orang-orang juga gajinya sama saja kan, barang-barang naik, tapi kan gajinya tetap ya. It’s okay,” kata Jani.

Bukan Sekadar Tradisi

Walau sebenarnya beragam kue kering ini dapat dibeli kapan saja, bagi Endah Rejeki di Pasadena, California, menyediakan kue lebaran di rumah rasanya lebih dari sekadar tradisi.

Endah Redjeki, WNI yang tinggal di Pasadena, California (dok: pribadi)

Endah Redjeki, WNI yang tinggal di Pasadena, California (dok: pribadi)

“Kayak nggak afdol aja kalau misalnya kita enggak ada kue lebaran, kayak nastar, atau kastengel, istilahnya berbarengan dengan ketupat lebaran atau lontong sayur,” ujar Endah kepada VOA.

Sudah tiga tahun belakangan ini, ia selalu membeli beragam kue lebaran dari penjual langganannya di Baltimore, Maryland. Tahun ini Endah memesan paket kombinasi kue kering yang terdiri dari nastar, kastengel dan putri salju yang menurutnya “enak sekali.”

Walau jauh dari tanah air dan keluarga, paling tidak kue-kue lebaran khas Indonesia ini mampu menghadirkan suasana berlebaran yang senantiasa dirindukan diaspora di Amerika. [di/ka]



Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement google.com, pub-3471700597902966, DIRECT, f08c47fec0942fa0
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

- Advertisement -
e-Kompas.ID

Categories