Connect with us

Nasional

Mengingat Kembali Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, ketika Mahasiswa di Dalam Kampus Ditembaki

Mengingat Kembali Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, ketika Mahasiswa di





Mahasiswa Universitas Trisakti berdemonstrasi di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/5/2015). Aksi ini untuk memperingati 17 tahun tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menelan korban empat orang mahasiswa Trisakti saat memperjuangkan reformasi.


© Disediakan oleh Kompas.com
Mahasiswa Universitas Trisakti berdemonstrasi di depan Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/5/2015). Aksi ini untuk memperingati 17 tahun tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang menelan korban empat orang mahasiswa Trisakti saat memperjuangkan reformasi.


JAKARTA, KOMPAS.com
– Peristiwa 12 Mei 1998 nyata menjadi tonggak reformasi.

Saat itu ribuan mahasiswa turun ke jalan untuk menentang kepemimpinan Presiden Soeharto, termasuk di dalamnya para mahasiswa dari Universitas Trisakti Jakarta.

Namun, di sela aksi damai yang menuntut Soeharto mundur dari jabatannya sebagai kepala negara saat itu, empat mahasiswa Trisakti malah ditembak. 

Empat mahasiswa yang gugur itu adalah Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto dan Hendriawan Sie.

Baca juga: Selasa Kelam 12 Mei 1998, Terjadinya Tragedi Trisakti…

Selain keempatnya, KontraS mencatat ada 681 orang lainnya yang luka-luka atas peristiwa berdarah itu.

Pasca tragedi itu, gelombang perlawanan mahasiswa untuk menurunkan rezim orde baru bukannya surut, namun justru semakin kuat dan lantang.

Perlawanan itu akhirnya membuat Soeharto mundur dari puncak kepemimpinannya pada 21 Mei 1998.

Lantas apa yang terjadi pada 21 Mei 1998?

Demonstrasi mahasiswa di Universitas Trisakti merupakan rangkaian aksi mahasiswa yang menuntut adanya reformasi sejak awal 1998.

Aksi mahasiswa makin masif, berani, dan terbuka pasca MPR mengangkat kembali Presiden Soeharto untuk ketujuh kalinya dalam Sidang Umum MPR 10 Maret 1998.

Baca juga: 23 Tahun Tragedi Trisakti: Apa yang Terjadi pada 12 Mei 1998?

Jika sebelum Sidang Umum 1-11 Maret 1998 aksi Mahasiswa dilakukan di dalam kampus, setelah sidang itu berjalan, pola perlawanan mahasiswa berubah dengan sering melakukan aksi di luar kampus.

Dikutip dari dokumentasi Kompas, pada 5 Maret 1998 saat sidang MPR berjalan, perwakilan mahasiswa sempat bertemu dengan Fraksi ABRI untuk menyampaikan penolakan pada laporan pertanggungjawaban Soeharto.

Namun, aspirasi tersebut hanya didengarkan dan tidak dipenuhi.

Adapun aksi di di depan kampus Trisakti tercatat sebagai salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar yang dilakukan di luar kampus.

Posisi kampus yang terletak di Grogol, Jakarta Barat, membuat Trisakti menjadi lokasi yang strategis untuk demonstrasi karena dekat dengan gedung DPR/MPR.

Baca juga: 5 Kasus HAM yang Belum Tuntas, dari Peristiwa Trisakti hingga Paniai

Karena alasan itu, Universitas Trisakti kemudian menjadi titik kumpul para mahasiswa dari berbagai kampus.

Hari itu, berdasarkan cataan Kompas, aksi dimulai di dalam kampus pada pukul 11.00 WIB dengan salah satu agendanya mendengarkan orasi Jenderal Besar AH Nasution.

Meski Nasution tak jadi datang, aksi tetap dilanjutkan dengan mendengarkan orasi dari para guru besar, dosen dan mahasiswa.

Dua jam berselang, pukul 13.00 WIB, para mahasiswa keluar kampus menuju jalan S Parman. Mereka berniat melakukan long march ke gedung DPR/MPR di Senayan.

Barisan depan long march diisi oleh para mahasiswa yang membagikan mawar pada aparat kepolisian yang mengadang ribuan peserta demonstrasi.

Baca juga: Orangtua Korban Tragedi Trisakti Tetap Pilih Jokowi Meski Kasusnya Belum Selesai

Negosiasi kemudian terjadi antara perwakilan pimpinan mahasiswa dan alumni yakni Dekan Fakultas Hukum Universitas Trisakti Adi Andojo dengan Komandan Kodim Jakarta Barat Letkol (Inf) A Amril.

Kesepakatannya, demonstrasi hanya bisa berjalan sampai depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat, yakni 300 meter dari pintu utama Universitas Trisakti.

Maka mahasiswa kemudian melanjutkan aksi dengan menggelar mimbar bebas menuntut agenda reformasi dan Sidang Istimewa MPR.

Aksi berjalan sampai pukul 17.00 WIB tanpa ketegangan berarti. Beberapa peserta aksi juga sudah mulai kembali masuk ke lokasi kampus.

Namun, saat sekitar 70 persen mahasiswa peserta aksi sudah kembali ke dalam kampus, suara letusan senjata api terdengar dari arah aparat keamanan.

Baca juga: Aktivis Minta Korban Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II Jadi Pahlawan Nasional

Sontak para mahasiswa berhamburan dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Ada yang memasuki kampus, ada juga yang melompati pagar tol untuk menyelamatkan diri.

Aparat keamanan lalu bergerak dan memukuli peserta demonstrasi.

Mahasiswa tak tinggal diam melihat aksi tersebut dan mulai melakukan perlawanan dengan melemparkan benda apa saja dari dalam kampus kepada aparat.

Hujan tembakan dan peluru tajam

Berdasarkan berbagai dokumentasi televisi, diketahui penembakan tidak hanya dilakukan dari aparat keamanan yang berjaga di sekitar kampus Trisakti.

Aparat juga menembak mahasiswa dari atas fly over Grogol dan jembatan penyeberangan.

Lebih parahnya lagi, aparat keamanan tidak hanya menghujani mahasiswa dengan peluru karet.

Pihak kampus menemukan aparat melakukan tembakan terarah dengan menggunakan peluru tajam.

Baca juga: Tragedi Trisakti-Semanggi, Menkumham Sebut Rekonsiliasi Cara Terbaik

“Kita sudah bilang aparat jangan represif, tapi kok seperti ini. Mahasiswa saya ditembaki dengan peluru tajam, dan itu berlangsung di dalam kampus,” terang Adi Andojo.

“Padahal seharusnya ada prosedurnya. Kok ini tiba-tiba pakai peluru tajam dan mereka (mahasiswa) sudah berada di dalam kampus. Padahal mahasiswa tidak melawan, tidak melempar batu, dan tidak melakukan kekerasan. Mahasiswa saya itu sudah berangsur-angsur pulang ke kampus,” jelasnya.

Wakil Ketua Komnas HAM saat itu, Marzuki Darusman menyatakan ada serangan terhadap kemanusiaan dalam menangani aksi massa.

Mahasiswa yang menjadi korban penembakan kemudian dilarikan ke sejumlah rumah sakit, salah satunya adalah RS Sumber Waras.

Suasana mencekam di RS Sumber Waras begitu terasa. Perasaan cemas, takut, sedih dan marah bercampur menjadi satu.

Baca juga: Orangtua Korban Tragedi Trisakti: 18 Tahun Hidup Saya Berat…

Pasca kejadian, dalam konferensi pers pihak Universitas Trisakti menyatakan ada enam korban meninggal, namun empat hari kemudian dipastikan empat mahasiswa Trisakti yang menjadi korban.

Pelaku masih menjadi misteri

Dikutip dari buku Mahasiswa Dalam Pusaran Reformasi 1998, Kisah Yang Tak Terungkap (2016) karya Rosidi Rizkiandi, ahli kedokteran forensik dr Abdul Mun’im Idries menyebut hasil visum menunjukan adanya serpihan peluru kaliber 5,56 mm di tubuh salah satu korban Hery Hertanto.

Peluru itu biasanya digunakan pada senjata laras panjang jenis Styer atau SS-1. Kala itu, Styer biasa digunakan oleh Brimob dan Kopassus.

Hasil yang sama juga ditemukan Tim Pencari Fakta ABRI dan uji balistik di Forensic Technology Inc, Montreal, Kanada.

Tapi Kapolri saat itu Jenderal Pol Dibyo Widodo membantah jika anak buahnya beraksi dengan melakukan peluru tajam.

Kapolda Metro Jaya Hamami Nata mengklaim bahwa pihak kepolisian hanya menggunakan tongkat pemukul, peluru kosong, peluru karet dan gas air mata.

Baca juga: Prabowo Temui Keluarga Korban Tragedi Trisakti

Beberapa tahun kemudian persidangan pada enam terdakwa tidak dapat mengungkapkan siapa pelaku beserta motif penembakan peluru tajam pada para mahasiswa itu.

Enam terdakwa hanya dituduh dengan sengaja tidak mentaati perintah atasan.

Sampai hari ini, di pemerintahan Presiden Joko Widodo peristiwa 12 Mei 1998 masih belum menemukan titik terang.

Harapan penuntasan kasus ini tak pernah mati, empat mahasiswa yang meregang nyawa dalam aksi, tetap dikenang sebagai pahlawan reformasi.





Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar Covid-19

Teknologi

Advertisement