Pemimpin Dunia Berjanji Akhiri Deforestasi pada 2030 : e-Kompas.ID News - e-Kompas.ID
Connect with us

Headline

Pemimpin Dunia Berjanji Akhiri Deforestasi pada 2030 : e-Kompas.ID News



GLASGOW – Lebih dari 100 pemimpin dunia pada Senin (1/11/2021) malam berjanji untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi dan degradasi lahan pada akhir dekade ini. Upaya ini didukung oleh dana publik dan swasta senilai USD19 miliar (sekira Rp270,9 triliun) untuk berinvestasi dalam melindungi dan memulihkan hutan.

Pernyataan bersama pada pembicaraan iklim KTT COP26 di Glasgow, Skotlandia itu didukung oleh para pemimpin negara termasuk Brasil, Indonesia dan Republik Demokratik Kongo, yang secara kolektif menyumbang 85% dari hutan dunia.

BACA JUGA: Presiden Jokowi: Indonesia Tekan Deforestasi ke Titik Terendah dalam 20 Tahun Terakhir

Glasgow Leaders’ Declaration on Forest and Land Use, deklarasi para pemimpin dunia tentang hutan dan penggunaan lahan, akan mencakup hutan seluas lebih dari 13 juta mil persegi, menurut sebuah pernyataan dari kantor perdana menteri Inggris atas nama para pemimpin. 

“Kita akan memiliki kesempatan untuk mengakhiri sejarah panjang umat manusia sebagai penakluk alam, dan sebagai gantinya menjadi penjaganya,” kata PM Inggris Boris Johnson sebagaimana dilansir Reuters. Johnson menyebutnya deklarasi ini sebagai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

BACA JUGA: 300 Hektar Hutan Rinjani Rusak Akibat Penebangan Liar

Sejumlah inisiatif tambahan pemerintah dan swasta diluncurkan pada Selasa (2/11/2021) untuk membantu mencapai tujuan itu, termasuk dana miliaran dolar yang dijanjikan untuk penjaga hutan adat dan pertanian berkelanjutan. 

Menurut Lembaga Sumber Daya Dunia nirlaba, Hutan menyerap sekitar 30% emisi karbon dioksida dan mengambil emisi dari atmosfer dan mencegahnya dari pemanasan iklim. Namun, penyangga iklim alami ini dengan cepat menghilang.

Dunia kehilangan 258.000 kilometer persegi hutan pada 2020, menurut inisiatif pelacakan deforestasi WRI, Global Forest Watch. Itu adalah wilayah yang lebih besar dari Inggris.

Kesepakatan pada Senin itu memperluas komitmen serupa yang dibuat oleh 40 negara sebagai bagian dari Deklarasi Hutan New York 2014 dan melangkah lebih jauh dari sebelumnya dalam menyusun sumber daya untuk mencapai tujuan itu.

Berdasarkan perjanjian tersebut, 12 negara termasuk Inggris telah berjanji untuk menyediakan 8,75 miliar pound atau sekira USD12 miliar (Rp170 miliar) dana publik antara 2021 dan 2025 untuk membantu negara-negara berkembang, termasuk dalam upaya untuk memulihkan lahan yang terdegradasi dan mengatasi kebakaran hutan.

Setidaknya 5,3 miliar pound lebih lanjut akan disediakan oleh lebih dari 30 investor sektor swasta termasuk Aviva, Schroders, dan AXA.

Para investor, yang mewakili USD8,7 triliun dalam aset yang dikelola, juga berjanji untuk berhenti berinvestasi dalam kegiatan yang terkait dengan deforestasi pada 2025.

Lima negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat (AS), dan sekelompok badan amal global pada Selasa (2/11/2021) juga berjanji untuk menyediakan USD1,7 miliar dalam pembiayaan untuk mendukung konservasi hutan masyarakat adat dan untuk memperkuat hak-hak tanah mereka.

Para pemerhati lingkungan mengatakan bahwa masyarakat adat adalah pelindung terbaik hutan, sering kali melawan perambahan dengan kekerasan dari penebang dan perampas tanah.

Lebih dari 30 lembaga keuangan dengan aset yang dikelola lebih dari USD8,7 triliun juga mengatakan mereka akan melakukan “upaya terbaik” untuk menghilangkan deforestasi yang terkait dengan produksi ternak, minyak sawit, kedelai, dan pulp pada 2025.

COP26 bertujuan untuk mempertahankan target pembatasan pemanasan global pada 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Para ilmuwan mengatakan hutan dan apa yang disebut solusi berbasis alam akan sangat penting untuk mencapai tujuan itu.

Hutan telah menghilangkan sekitar 760 juta ton karbon setiap tahun sejak 2011, mengimbangi sekitar 8% emisi karbon dioksida dari bahan bakar fosil dan semen, menurut proyek Biomass Carbon Monitor yang didukung oleh firma analisis data Kayrros dan lembaga penelitian Prancis.



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *