Connect with us

Nasional

Perkebunan Kelapa Sawit Didesak Perketat Prokes COVID-19


Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendesak perkebunan kelapa sawit untuk memperketat protokol COVID-19 di Riau. Desakan itu muncul setelah adanya lonjakan kasus baru di salah satu daerah penghasil minyak sawit terbesar di Indonesia.

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Minyak nabati itu digunakan sebagai bahan baku dalam banyak produk konsumen, mulai dari sabun hingga es krim dan bahan bakar. Nilai ekspor produk minyak sawit nasional pada 2020 diperkirakan mencapai sekitar $23 miliar.

Riau menyumbang 3,38 juta hektar atau sekitar seperlima dari 16,38 juta hektar total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Riau mengalami lonjakan infeksi virus corona dalam beberapa pekan terakhir dengan mencatatkan rata-rata kasus harian sekitar 522 kasus sejak 16 Mei dan menjadi salah satu provinsi yang dilanda COVID-19 yang paling parah.

Seorang gadis mendorong gerobak saat bekerja di areal perkebunan kelapa sawit di Pelalawan, Provinsi Riau, 16 September 2015 (Foto: AFP/Adek Berry)

Seorang gadis mendorong gerobak saat bekerja di areal perkebunan kelapa sawit di Pelalawan, Provinsi Riau, 16 September 2015 (Foto: AFP/Adek Berry)

“Ada peningkatan kasus di (perkebunan sawit) ini dengan protokol longgar, meskipun beroperasi secara normal,” kata Jatmiko K. Sentosa, kepala GAPKI cabang Riau, kepada Reuters, Kamis (10/6).

Menurut Jatmiko, beberapa perkebunan telah mengadopsi langkah-langkah protokol Kesehatan sejak awal pandemic, termasuk pengujian COVID-19 dan tidak mengizinkan pekerja meninggalkan perkebunan. Namun aturan tersebut tidak selalu menjadi standar atau ditegakkan dengan cara yang sama.

“Dengan meningkatnya kasus, kami menyusun dan memberikan rujukan protokol kesehatan terperinci, yang akan kami imbau untuk semua anggota untuk merujuk,” katanya, seraya mencatat tindakan seperti itu seharusnya tidak memengaruhi hasil perkebunan.

Jatmiko mengatakan, kenaikan harga sawit telah mendorong petani untuk meningkatkan produksi. Dengan kondisi ini makin penting untuk menghindari lonjakan kasus.

“Kalau karyawan terpapar, produksi terganggu, mereka tidak bisa memanfaatkan momen harga bagus ini,” katanya.

Wildan Asfan Hasibuan, ahli epidemiologi yang menjadi penasihat gugus tugas COVID-19 Riau, mengatakan wabah di perkebunan seharusnya lebih mudah dikendalikan daripada di daerah perkotaan.

“Masalah terbesar kami adalah di kota-kota…. di pedesaan relatif lebih aman,” katanya.

Indonesia mencatatkan wabah virus corona terburuk di Asia Tenggara dengan melaporkan 1,87 juta infeksi dan 51.992 kematian. Pada Rabu (9/6), Indonesia mencatat kenaikan kasus COVID-19 harian tertinggi sejak 26 Februari. [ah/ft]



Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *